Kamis, 05 April 2018

Hama Ulat Api Setothosea asigna van Eecke




Preferensi habitat.
Spesies ini cukup umum di hutan hujan dataran rendah. Selama survei Mulu diambil paling sering di hutan dipterocarp perbukitan pada transek Mulu, membentang hingga hutan pegunungan bawah, kurang sering pada batu gamping G. Api pada kisaran yang sama, dan relatif jarang di hutan aluvial dan kerangas.

Biologi. Struktur larva digambarkan dalam akun generik. Ini daun hijau, tubercles dorsolateral yang berujung dengan duri hitam. Daerah punggung ditandai dengan hitam; sebuah pita anterior sepertiga lebar tubuh, intan sentral yang menjalar di seluruh tubuh pada terluasnya dan zona ovate yang terpotong sebelum dorsolater posterior. Yang hitam bermata kuning kecuali pada konstriksi, yang terjadi di subdorsal. Area ovate berpusat putih, berlian memiliki jam-dorsal jam putih (yang dapat dikurangi menjadi dua lingkaran), penyempitannya dilalui oleh deretan empat titik putih yang membentang lebar berlian.

Spesies ini telah dicatat dari kelapa sawit dan kelapa (Elaeis, Cocos) Rentang geografis. Sumatra, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Palawan.

Telur   berwarna   kuning   kehijauan,   berbentuk   oval,   sangat   tipis   dan   transparan. Telur  diletakkan  berderet  3 –  4  baris  sejajar  dengan  permukaan  daun  sebelah  bawah,  biasanya  pada  pelepah  daun  ke  6  – 17.  Satu  tumpukan   telur   berisi   sekitar   44   butir.   Seekor   ngengat   betina   mampu    menghasilkan  telur  sekitar  300  –  400  butir.  Telur  menetas  4  – 8  hari  setelah  diletakkan (Sudharto, 1991).



Larva yang baru menetas hidup berkelompok, mengikis jaringan daun dari permukaan daun dan meninggalkan epidermis permukaan bagian atas daun. Larva berwarna hijau kekuningan dengan bercak -bercak yang khas (berbentuk pita yang menyerupai  piramida)  pada  bagian  punggungnya.  Selain  itu  pada  bagian  punggungnya  dijumpai  duri -duri  yang  kokoh.  Selama  perkembangannya ulat berganti kulit 7 – 8 kali dan mampu menghabiskan helai daun seluas 400 cm2 (Prawirosukarto et al., 2003).

Pupa  berada  di  dalam  kokon  yang  terbuat  dari  campuran  air  liur  ulat  dan  tanah ,  berbentuk  bulat  telur  dan  berwarna  cokelat  gelap,  terdapat  di  bagian  tanah  yang  relatif  gembur  di  sekitar  piringan  atau  pangkal  batang  kelapa  sawit.  Pupa  jantan  dan  betina  masing  –  masing  berukuran  berlangsung  selama  ±  39, 7 hari (Susanto et al.,2012).

Imago berupa ngengat yang muncul setelah stadia pupa. Imago keluar dari kokon  dengan  membuat  lubang  sobekan  pada  salah  satu  ujung  kokon.  Warna  ngengat  abu -abu  kecoklatan  dengan  ukuran  ±  17  mm  untuk  ngengat  jantan  dan  untuk  ngengat  betina  ±  14  mm.  Perkembangan  hama  ini  mulai  dari  telur  hingga  menjadi  ngengat  berkisar  antara  92,7  hari  – 98  hari,  tetapi  pada  keadaan kurang menguntungkan dapat mencapai 115 hari (Siregar, 1986).


Gejala Serangan
Umumnya   gejala   serangan   dimulai   dari   daun   bagian   bawah   hingga   akhirnya helaian daun berlubang habis dan bagian yang tersisa hanya tulang daun saja. Ulat  ini  sangat  rakus,  mampu  mengkonsumsi  300  –  500  cm2 daun sawit per hari. Tingkat populasi 5 – 10 ulat  per pelepah merupakan populasi  kritis  hama  tersebut di  lapangan dan  harus segera diambil tindakan pengendalian  (Lubis, 2008). 

Tetapi secara umum tingkat serangan ulat api ini hampir sama dengan Setora nitens yaitu Populasi kritis untuk larva serangga ini adalah untuk Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)  kriteria ringan 1-2 larva/pelepah, kriteria sedang 3-5 larva/pelepah dan kriteria berat >5, sementara untuk Tanaman Menghasilkan (TM) populasi kritis pada tingkat ringan 1-5 larva/pelepah  untuk kriteria sedang 6-10 larva per pelepah dan kriteria berat >10 larva/pelepah. Pupa terletak di permukaan tanah dengan ciri berdiameter 15 mm dan berwarna coklat

Ulat  muda  biasanya  bergerombol  di  sekitar  tempat  peletakkan  telur  dan  mengikis    daun    mulai    dari    permukaan    bawah    daun    kelapa    sawit    serta  meninggalkan  epidermis  daun  bagian  atas.  Bekas  serangan  terlihat  jelas  seperti  jendela -jendela  memanjang  pada  helaian  daun,  sehingga  akhirnya  daun  yang  terserang berat akan mati kering seperti bekas terbakar. Mulai instar ke 3 biasanya ulat  memakan  semua  helaian  daun  dan  meninggalkan  lidinya  saja  dan  sering  disebut gejala melidi (Buana dan Siahaan, 2003).
Ambang  ekonomi  dari  hama  ulat  api  untuk  S.  asigna  dan S.  nitens  pada tanaman  kelapa  sawit  rata-rata  5 -  10 ekor  perpelepah  untuk  tanaman  yang  berumur tujuh tahun ke atas dan lima ekor larva untuk tanaman yang lebih muda (Prawirosukarto et al., 2003). 

Kerugian
Kerugian  yang  ditimbulkan  S.  asigna,  yaitu  terjadi  penurunan  produksi  sampai 69 % pada tahun pertama setelah serangan dan ± 27 % pada tahun kedua setelah  serangan,  bahkan  jika  serangan  berat,  tanaman  kelapa  sawit  tidak  dapat  berbuah selama 1 – 2  tahun berikutnya (Sipayung dan Hutauruk, 1982).

Pengendalian
Beberapa   teknik   pengendalian   ulat   api   yang   dapat   dilakukan   adalah   sebagai  berikut  :  1.  pengendalian  secara  mekanik,  yaitu  pengutipan  ulat  ataupun  pupa   di   lapangan   kemudian   dimusnahkan   2.   pengendalian   secara   hayati,   dilakukan  dengan  :  penggunaan  parasitoid  larva  seperti  Trichogramma sp  dan  predator    berupa  Eocanthecona sp,    Penggunaan    virus    seperti    Granulosis    Baculoviruses,  MNPV  (Multiple  Nucleo  Polyhedro  Virus)  dan  jamur  Bacillus thuringiensis ,  3.  Penggunaan  insektisida,  dilakukan  dengan  :  Penyemprotan  (spraying) dilakukan pada tanaman yang berumur 2,5 tahun dengan menggunakan penyemprotan  tangan,  sedangkan  tanaman  yang  berumur  lebih  dari  5  tahun  penyemprotan   dilakukan   dengan   mesin   penyemprot,   Penyemprotan   udara   dilakukan  apabila  dalam  suatu  keadaan  tertentu  luas  areal  yang  terserang  sudah  meluas  yang  meliputi  daerah  dengan  berbagai  topografi.  Penggu naan  feromon  seks sintetik efektif untuk merangkap ngengat jantan ulat api S. asigna selama 45 hari (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2011) (baca penggunaan NPV, Predator Ulat Api, di blog ini juga)

Pestisida yang direkomendasikan di Indonesia  sesuai buku yang dikeluarkan oleh DIREKTORAT PUPUK DAN PESTISIDA DIREKTORAT JENDRAL KEMENTRIAN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA 

No
Bahan Aktiv
Hama
Jenis Hama
1
Amcothene 75 SP
Thosea Asigna
Ulat Api
2
Atabron 50 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
3
Bactospeine WP
Thosea Asigna
Ulat Api
4
Beta 15 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
5
Biocis25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
6
Bravo 50 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
7
Buldok25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
8
Cascade 50 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
9
Chlormite 400 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
10
Cymbush 50 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
11
Decis25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
12
Dimilin 25 WP
Thosea Asigna
Ulat Api
13
DipeiWP
Thosea Asigna
Ulat Api
14
Dursban 200 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
15
Fastac 15 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
16
Fenval 200 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
17
Hamasid 25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
18
Matador 25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
19
Oscar25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
20
Polydor 25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
21
Protect 100 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
22
Ripcord 50 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
23
Scud 50 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
24
Sherpa 50 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
25
Starfos 25 EC
Thosea Asigna
Ulat Api
26
Thuricide HP
Thosea Asigna
Ulat Api


Selengkapnya dapat di download di di sini

INJEKSI BATANG
Insektisida berbahan aktif asefat 75% adalah racun ulat api dan ulat kantong yang berbentuk tepung, sehingga perlu perlakuan pelarutan untuk dapat di masukkan kedalam batang/pohon kelapa sawit. Metoda pencampuranya adalah sebagai berikut :Asefat 75%  sebanyak 1 kg (satu kilogram) ditambahkan air sebanyak 600 ml (enam ratus mili liter) maka akan menjadi larutan sebanyak 1350 ml larutan.

Dosis
Dari berbagai percobaan bahan aktif asefat 75% SP untuk pengendalian ulat api dan ulat kantong hasil yang paling optimum adalah 15 gr/palm (limabelas gram perpalm). Maka untuk 1 kg (satu kilogram) Asefat 75%  SP dapat digunakan pada 66 (enam puluh enam) pohon kelapa sawit, dalam kasus lainnya ada yang menggunakan dosis 400 gram per hektar, besar kecilnya dosis tergantung dari tingkat serangan hama, aplikasi sebaiknya dilakukan pada saat ulat api atau ulat kantong sedang aktif aktifnya makan yakni pada 1 - 30 hari setelah ulat menetas

Aplikasi
Buatlah lubang pada batang kelapa sawit dengan alat bor dan sejenisnya dengan kemiringan 450 dengan volume lubang 25 ml – 30 ml, lalu masukkan larutan Asefat 75% SP sebanyak 20 ml dengan menggunakan spit, corong selang atau sejenisnya, dan tutuplah lubang dengan tanah liat atau lilin dan sejenisnya agar larutan tidak tumpah atau tercampur kotoran.


Ada beberapa merek yang direkomendasikan oleh Pemerintah dalam mengendalikan ulat api maupun ulat kantong dengan menggunakan bahan aktif ametrin 75%SP sebagai aplikasi pengendalian dengan tehnik injeksi batang pada tabel berikut

No
Bahan Aktif
Produsen
1
Acedo 75 SP
PT. Mio Life Sciences Indonesia
2
Acemain 75 SP
PT. Royal Agro Indonesia
3
Ace One 75 SP
PT. Sinar General Indutries
4
Afate 75 SP
CV. Vapco Indonesia
5
Amcothene 75 SP
PT. Adil Makmur Fajar
6
Besqueen 80 SP
PT. Tiara Buana Mandiri
7
BM Promax 75 SP
PT. Behn Meyer Pupuk dan Agrokimia
8
Chepate 75 SP
PT. Nufarm Indonesia
9
Counter 50/1,8 SP
PT. UPL Indonesia
10
Dafat 75 SP
PT. Dalzon Chemicals Indonesia
11
Dafat 75 WG
PT. Dalzon Chemicals Indonesia
12
Dafat 250 EC
PT. Dalzon Chemicals Indonesia
13
Dafat 400 SL
PT. Dalzon Chemicals Indonesia
14
Isadora 75 SP
PT. Sari Kresna Kimia
15
Joker 75 SP
PT. Excel Meg Indo
16
Jossefat 80 SP
CV. Mahakam
17
Kencepat 75 SP
PT. Kenso Indonesia
18
Lancer 75 SP
PT. Agro Sejahtera Indonesia
19
Manthene 75 SP
PT. Dharma Guna Wibawa
20
Megastar 75 SP
PT. Meghmani Organics
21
Missel 75 SP
PT. Gunung Kombeng
22
Orthene 75 SP
PT. Indagro
23
Ortran 75 SP
PT. Arysta LifeScince Tirta
24
Osada 75 SP
PT. Tanindo Intertraco
25
Pastifat 75 SP
PT. Tani Agro Sejahtera
26
Phosthene 97 WG
PT. UPL Indonesia
27
Prathen 75 SP
PT. Mekar Warna Sari
28
Prothene 75 SP
PT. Mitra Kreasidharma
29
Roosfat 75 SP
CV. Nasienie Indonesia
30
Roteen 75 SP
PT. Agrokimindo Kurniabuana


Sumber : 
1.http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/59357/Chapter%20II.pdf
2. http://www.mothsofborneo.com/part-1/limacodidae/limacodidae-24-1.php

Rabu, 04 April 2018

Bacillus thuringiensis Pengendalian Hama Ulat


PENDAHULUAN
Pada bahasan sebelumnya tepatnya tanggal 22 Februri 2018, kita telah membahas tentang penggunaan NPV sebagai pengendalian serangan hama ulat api, maka pada bahasan kali ini kita membahas penggunaan Bacillus  thuringiensis sebagai agen hayati dalam pengendalian serangan hama ulat. Salah satu hama yang banyak menyerang tanaman pertanian adalah dari jenis serangga seperti ulat, larva kumbang, dan lalat buah. Serangga tersebut dapat memakan daun, menggerogoti batang dan akar, maupun membusukkan buah. Petani biasanya menggunakan pertisida untuk mengendalikan serangga tersebut. Penyemprotan pestisida dapat mematikan serangga karena efek zat kimia beracun yang dikandungnya. Zat kimia dalam pertisida memang terbukti efektif dalam membasmi serangga, namun hal ini menimbulkan masalah baru karena zat kimia dalam pestisida juga beracun bagi manusia dan hewan lain apabila terakumulasi di dalam tubuh.

Penggunaan bahan pembasmi serangga yang efektif dan tidak membahayakan organisme lain terus berkembang dalam dunia pertanian. Salah satu penemuan yang cukup efektif untuk membasmi serangga pengganggu namun aman bagi organisme yang lain terutama manusia adalah penggunaan bakteri Bacillus thuringiensis dalam pertanian. Penggunaan bakteri ini telah dikenal di Amerika Serikat sejak awal tahun 1960-an. Namun di Indonesia bakteri ini belum umum digunakan karena belum dikenal luas di kalangan petani, terutama petani tradisional


Bacillus thuringiensis atau biasa disingkat dengan BT merupakan bakteri yang mampu menghasilkan zat kimia yang beracun bagi serangga. Secara alami, bakteri ini terdapat di dalam tanah, pada serangga, maupun pada permukaan tanaman. BT yang dimakan serangga akan mengeluarkan racun yang mematikan dalam sistem pencernaan serangga. Oleh karena itu BT biasanya disemprotkan pada permukaan tanaman yang menjadi makanan serangga pengganggu. Serangga yang memakan daun, bunga, atau buah yang telah disemprot akan mati setelah beberapa waktu karena keracunan dan infeksi. Serangga muda/immature lebih rentan terhadap serangan racun BT dibandingkan dengan serangga dewasa.

Beberapa subspesies BT dikenal menghasilkan racun yang spesifik terhadap jenis serangga tertentu. Telah dikenal BT yang menghasilkan racun spesifik terhadap kupu-kupu, ngengat, nyamuk, lalat, dan kumbang. Hewan-hewan lain seperti ikan, kadal, mupun burung tidak akan terpengaruh dengan racun BT. Manusia yang memakan tanaman yang telah disemprot BT juga tidak akan mengalami gangguan atau keracunan karena racunnya hanya berdampak pada serangga.

BT yang digunakan sebagai pembasmi serangga biasanya merupakan hasil pembiakan secara invitro di laboratorium. Dengan medium tertentu akan dihasilkan BT dalam jumlah banyak yang dapat digunakan untuk menyemprot tanaman setelah diencerkan. Penggunaan BT dapat digunakan sebagai alternatif membasmi serangga yang tidak membahayakan organisme lain, sebagai pengganti penggunaan pestisida yang berbahaya.

DESKRIPSI
Bacillus thuringiensis adalah bakteri gram-positif, berbentuk batang, yang tersebar secara luas di berbagai negara. Bakteri ini termasuk patogen fakultatif dan dapat hidup di daun tanaman konifer maupun pada tanah. Apabila kondisi lingkungan tidak menguntungkan maka bakteri ini akan membentuk fase sporulasi. Saat sporulasi terjadi, tubuhnya akan terdiri dari protein Cry yang termasuk ke dalam protein kristal kelas endotoksin delta. Apabila serangga memakan toksin tersebut maka serangga tersebut dapat mati. Oleh karena itu, protein atau toksin Cry dapat dimanfaatkan sebagai pestisida alami.

B. thuringiensis dibagi menjadi 67 subspesies (hingga tahun 1998) berdasarkan serotipe dari flagela (H). Ciri khas dari bakteri ini yang membedakannya dengan spesies Bacillus lainnya adalah kemampuan membentuk kristal paraspora yang berdekatan dengan endospora selama fase sporulasi III dan IV. Sebagian besar ICP disandikan oleh DNA plasmid yang dapat ditransfer melalui konjugasi antargalur B. thuringiensis , maupun dengan bakteri lain yang berhubungan. Selama pertumbuhan vegetatif terjadi, berbagai galur B. thuringiensis menghasilkan bermacam-macam antibiotik, enzim, metabolit, dan toksin, yang dapat merugikan organisme lain. Selain endotoksin (ICP), sebagian subspesies B. thuringiensis dapat membentuk beta-eksotoksi yang toksik terhadap sebagian besar makhluk hidup, termasuk manusia dan insekta.

B. thuringiensis dapat memproduksi dua jenis toksin, yaitu toksin kristal (Crystal, Cry) dan toksin sitolitik (cytolytic, Cyt). Toksin Cyt dapat memperkuat toksin Cry sehingga banyak digunakan untuk meningkatkan efektivitas dalam mengontrol insekta. Lebih dari 50 gen penyandi toksin Cry telah disekuens dan digunakan sebagai dasar untuk pengelompokkan gen berdasarkan kesamaan sekuens penyusunnya.

SISTEM SERANGAN TOXIN
Protein atau toksin Cry tersebut akan dilepas bersamaan dengan spora ketika terjadi pemecahan dinding sel. Apabila termakan oleh larva insekta, maka larva akan menjadi inaktif, makan terhenti, muntah, atau kotorannya menjadi berair. Bagian kepala serangga akan tampak terlalu besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Selanjutnya, larva menjadi lembek dan mati dalam hitungan hari atau satu minggu. Bakteri tersebut akan menyebabkan isi tubuh insekta menjadi berwarna hitam kecoklatan, merah, atau kuning, ketika membusuk.

Toksin Cry sebenarnya merupakan protoksin, yang harus diaktifkan terlebih dahulu sebelum memberikan efek negatif. Aktivasi toksin Cry dilakukan oleh protease usus sehingga terbentuk toksin aktif dengan bobot 60 kDA yang disebut delta-endotoksin. Delta-endotoksin ini diketahui terdiri dari tiga domain. Toksin tersebut tidak larut pada kondisi normal sehingga tidak membahayakan manusia, hewan tingkat tinggi, dan sebagian insekta. Namun. pada kondisi pH tinggi (basa) seperti yang ditemui di dalam usus lepidoptera, yaitu di atas 9.5, toksin tersebut akan aktif. Selanjutnya, toksin Cry akan menyebabkan lisis (pemecahan) usus lepidoptera.


B. thuringiensis berpotensi  tinggi  mengandung  protein.  Setelah  ulat  makan  daun  yang  disemprot  insektisida  ini  0,5 – 2  jam  kemudian  akan  berhenti makan dan paling lama 2 hari akan mati. Insekt isida biologi ini hanya mematikan larva  tidak  menimbulkan  masalah  terhadap  musuh– musuh  ulat  seperti  predator  dan  parasit  sehingga  pengendalian  hayati  tidak  terganggu  walaupun  dilakukan secara  terus  menerus.  Ulat  yang  terserang  menjadi  malas,  bahkan  menjadi  tidak  berwarna  dan  lemas,  setelah  mati  mereka  menghasilkan  bau  busuk.  Sel  –  sel bakteri mengadung satu kristal protein racun demikian juga dalam sporanya. Jika terlarut  dalam  tubuh  serangga  kristal  ini  menyebabkan  paralysis  pada  lambung  (Howard, 1994).

Gejala   luar   infeksi   Bacillus   thuringensis    pada   Lepidoptera   adalah   penghilangan  selera  makan  dan  mobilitas  larva  berkurang  dengan  cepat  setelah  aplikasi.  Larva  kelihtan  kurang  tanggap  terhadap  sentuhan.  Setelah  larva  mati,  larva kelihatan mengkerut dan perubahan warnapun semakin jelas terlihat. Tubuh serangga  yang  mati  menjadi  lunak  dan  mengandung  cairan.  Kadang  –  kadang terjadi penghancuran integumen (dinding tubuh serangga bagian luar) di beberapa bagian tubuh larva. Kemudian larva menjadi busuk (Steinhaus, 2002) Racun  kristal  itu  dalam  kenyataannya  merupakan  protoksin  yang  aktif  apabila   dicerna   oleh   cairan  – cairan   yang   ada   didalam   perut   S.   asigna.   Kristal – kristal parasepora l yang dicerna hanya meracuni larva S. asigna dimana pH  ususnya  asam.  

Apabila  biakan  – biakan B.  thuringiensis  yang  telah  mengalami   sporulasi   diberikan   kepada   serangga,   satu   di   antara   tiga   akibat   utamanya akan terjadi, tergantung terserang dan tergantung juga kepada besarnya dosis,  yaitu:1).  Serangga  – serangga  yang  diracuni  oleh  Kristal  beracun,  dengan segera menjadi lumpuh, menunjukkan adanya perubahan patologis dalam jaringan – jaringannya, dan kemudian akan mati sebelum pertumbuhan yang sesungguhnyaatau  infeksi B.  Thuringiensis 2).  Serangga  – serangga  menunjukkan  tanda  – tanda  keracunan  (misalnya  berhenti  makan)  dan  rusaknya  epithelium  midgut  (perut  bagina  tengah)  yang  memungkinkan  bakteri  kedalam  darah  dan  berakibat  suatu  septicemia  yang  memat ikan  dengan  atau  tanpa  terjadinya  pertumbuhan  bakteri sebelumnya didalam perut. 3). Serangga – serangga relatif tidak rusak oleh kristal  karena  dalam  kasus  ini  B.  thuringiensis  berperilaku  seperti  B.  cereus  dan bertindak   sebagai   pathogen   fakultatif   atau   pathogen   potensial   yang   mampu   menghasilkan   septicemia   yang   mematikan   apabila   haemocoel -nya   terlibat   (Huffaker dan Messenger, 1989).

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
Menurut laporan WHO pada tahun 1999, sebanyak 13.000 ton produk B. thuringiensis diproduksi setiap tahunnya melalui teknologi fermentasi aerobik. Sebagian besar produk tersebut yang mengandung ICP dan spora hidup, sedangkan sebagian lainnya mengandung spora yang telah diinaktivasi. Produk B. thuringiensis konvensional hanya dibuat untuk mengatasi hama lepidoptera yang menyerang tanaman pertanian dan perhutanan. Namun, sekarang ini, banyak galur B. thuringiensis yang diproduksi untuk mengatasi golongan koeloptera dan diptera (perantara penyakit yang diakibatkan parasit dan virus). B. thuringiensis komersil juga telah diformulasikan sebagai insektisida untuk dedaunan, tanah, lingkungan perairan, dan fasilitas penyimpanan makanan. Contoh penggunaan B. thuringiensis pada lingkungan perairan adalah mengontrol nyamuk, lalat, dan larva serangga pengganggu lain pada waduk penampung air minum. Setelah diaplikasikan ke suatu ekosistem tertentu, sel vegetatif dan spora akan bertahan pada lingkungan sebagai komponen alami mikroflora dalam hitungan minggu, bulan, atau tahunan dan perlahan-lahan akan berkurang jumlahnya. Namun, ICP secara biologis akan inaktif dalam hitungan jam atau hari.

Aplikasi produk B. thuringiensis dapat menyebabkan pekerja lapangan terpapar secara aerosol ataupun melalui kontak dermal, serta mengkontaminasi makanan dan minuman pada lahan pertanian. Namun, menurut WHO hingga tahun 1999, belum ada laporan yang menunjukkan efek parah dari kontaminasi B. thuringiensis pada manusia, kecuali terjadinya iritasi mata dan kulit. Namun, sel vegetatif B. thuringiensis berpotensi memproduksi racun yang mirip dengan yang dihasilkan oleh Bacillus cereus dan belum diketahui apakah dapat menyebabkan penyakit manusia atau tidak. Penggunaan produk B. thuringiensis juga diketahui menimbulkan resitensi pada sebagian insekta, seperti Plodia interpunctella, Cadra cautella, Leptinotarsa decemlineata, Chrysomela scripta, Spodoptera littoralis, Spodoptera exigua, sehingga penggunaan produk tersebut untuk tujuan pengendalian hama harus lebih diperhatikan.

Saat ini sudah ada sediaan untuk Bacillus thuringiensis, untuk pengendalian ulat api maupun ulat kantong yang di rekomdasi oleh pemerintah yang dikeluarkan oleh Direktorat Pupuk dan Pestisida Direktorat Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian Kementrian Pertanian Republik Indonesia 2016 seperti pada table berikut

No
Bahan Aktiv
Hama
Jenis Bacillus
1
Endure 120 SC
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
2
Orchestra 480 SC
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
3
Sagri-Joss 300/50 EC
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
4
Agrisal WP
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
5
Bacillin WP
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
6
Bactospeine WP
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
7
Batindo + 1 WP
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
8
Bite SC
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
9
Bite WG
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
10
Bite WP
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
11
Crymax WP
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
12
Delfin WG
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
13
Dipel SC
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
14
Dipel WP
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
15
Florbac FC
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
16
Folkeen Tech SL
Ulat Api dan Ulat Kantung
Bacillus thuringiensis
 



Sumber
1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/59357/Chapter II.pdf
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Bacillus_thuringiensis

Selasa, 03 April 2018

Hama Ulat Kantung Pteroma Pandula



Jenis ini mirip dengan M. plana, bersifat polifag. Selain pada kelapa sawit, kerap juga menyerang daun sagu, kakao, kopi, Acacia, Albizia dan teh. Kadang kala menyerang bersama dengan M. plana. Kantongnya langsung menempel pada daun. Siklus hidupnya lebih pendek daripada siklus M. plana. Hanya ngengat jantan yang bersayap, dengan rentang sayap 11 mm. Ngengat betina tetap tinggal di dalam kantong. Pupa jantan panjangnya 6 mm dan yang betina 8 mm, berlangsung 18 hari. Kokon tergantung oleh benang halus sepanjang 10 mm. Berbagai musuh alami menyerang jenis ulat kantong ini

Ulat kantung Ptroma pendula merupakan salah satu jenis ulat kantung yang menyerang perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Jenis ini mirip dengan Metisaplana, bersifat polifag. Selain pada kelapa sawit kerap juga menyerang daun sagu, kakao, kopi, Acacia, Albazia dan teh. Kadang kala menyerang bersama dengan M. plana. Kantungnya langsung menempel pada daun. Siklus hidupnya lebih pendek daripada siklus M. plana, sehingga C. pendula dalam setahun dapat mencapai 8 generasi (Rozziansha et al., 2011).

Pengamatan Serangan
a. Jumlah Hama
Pengamatan jumlah hama dilakukan pada tanaman kelapa sawit yang memiliki gejala serangan ulat kantung yang tinggi. Jumlah hama yang dihitung akan dijadikan data awal yang kemudian dikumpulkan untuk dijadikan satu data, yaitu data jumlah hama secara keseluruhan.

b. Tingkat Serangan
Tingkat serangan dihitung berdasarkan jumlah hama yang terdapat pada pelepah tanaman sawit. Tingkat serangan P. pendula dikategorikan menjadi 5 intensitas level :
Level 0 = tidak ada serangan sama sekali
Level 1 = 1-10 individu larva / pelepah
Level 2 = 11-20 individu larva / pelepah
Level 3 = 21-30 individu / pelepah
Level 4 > 30individu / pelepah
(Wood,1971 ; Krishnan,1977 ; Basri,1993).

Akibat Serangan
Akibat dari serangan yang serius oleh hama pemakan daun dapat menyebabkan penurunan produksi. Hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah bunga jantan sebagai akibat tanaman mengalami “stress” karena kehilangan daun. Serangan pada daun atau tingkat kerusakan pada daun tergantung pada kemampuan konsumsi ulat atau larva. Tiap jenis serangga berbeda daya konsumsinya.
Luas permukaan satu pelepah daun kelapa sawit sekitar 3–4 m2. Kerusakan daun atau defoliasi yang ditimbulkan akan mengganggu asimilasi dan sekaligus produksi. Situasi ini akan baru pulih kembali setelah 2–3 tahun dari tingkat defoliasinya. Berdasarkan penjelasan tersebut maka oleh para ahli hama telah disusun pada populasi kritis yang dijadikan pedoman pemberantasan. Ulat yang terdapat pada daun contoh dihitung. Untuk Mahasena cobetti misalnya 4–8 ulat/pelepah, Thosea asigna, Setora nitens dan Metisa plana 5–10 ulat/pelepah, Thosea bisura, Thosea vetusta, Ploneta diducta 10–20 ulat/pelepah dan Darna trima 20–30 ulat/pelepah.


 TINGKAT AMBANG BATAS
Ulat kantong
Mahasena corbetti 5 larva/pelepah
Pteroma pendula 10 larva/pelepah
Metisa plana 10 larva/pelepah
Ulat Api
Setora nitens 5 larva/pelepah
Setothosea asigna 5 larva/pelepah
Darna trima 10 larva/pelepah

Tinggi rendahnya tingkat serangan yang terjadi di lapangan tidak terlepas pada pengaruh perhatian dan kontrol yang baik dalam usaha pengendalian hama. Kontrol yang baik dan penanganan yang tepat dapat menurunkan populasi hama ulat kantung.
Selain kontrol tanaman musuh alami juga sangat membantu dalam menekan perkembangan hama. Syed dan Sankaran (1972) mengemukakan bahwa banyak sekali parasitoid alami yang mampu menekan perkembangan ulat kantung, baik itu parasitoid larva maupun pupa.

Biologis
Parasitoid dan Predator memiliki potensi untuk mengendalikan hama secara biologi. Manipulasi lingkungan yang tepat untuk mengendalikan hama ini karena tindakan ini akan memodifikasi lingkungan untuk kelangsungan hidup dan perkembangan musuh alami.
Basri et al., (1999) menemukan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara serangga parasitoid dan jenis tanaman. Dari percobaan diketahui bahwa Dolochogenidea metesae menyukai tanaman Cassia cobanensis dan Asystasia  intrusa. Brachiraria carinata menyukai Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Euphelmus catoxanthae menyukai tanaman Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Tetrastichus sp menyukai tanaman Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Eurytoma sp menyukai tanaman Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Pediobius imbreus menyukai tanaman Cassia cobanensis Euphorbia heterophylla, Asystasia intrusa dan Ageratum conyzoides. Pediobius anomalus menyukai Cassia cobanensis dan Asystasia intrusa. Untuk mengetahui tanaman inang yang efektif, perlu dilakukan penelitian jenis tanaman inang yang paling disukai oleh predator Ptroma pendula  maupun Metisa plana.

Parasitoid primer dan sekunder, serta predator mempengaruhi populasi Metisa. plana. Diantara parasitoid primer, Goryhus bunoh, hidup paling lama (47 hari) sedangkan hiperparasitoid yang hidup paling lama adalah P. imbreus. Dolichogenidea metesae merupakan parasitoid paling penting (Basri et al., 1995) yang berkembang baik pada tanaman Cassia cobanensis, termasuk Asystasia intrusa, Crotalaria usaramoensis, dan Euphorbia heterophylla. Kecuali A. intrusa, keberadaan tanaman ini akan bermanfaat karena memberikan nektar untuk parasitoid. 

Pengendalian Secara Kimiawi.
Ulat kantong dapat dikendalikan dengan penyemprotan atau dengan injeksi batang menggunakan insektisida. Untuk tanaman yang lebih muda (< umur 2 tahun), knapsack sprayer dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi insektisida dapat menggunakan fogging atau injeksi batang. Monocrotophos dan methamidophos merupakan dua insektisida sistemik yang direkomendasikan untuk injeksi batang (Hutauruk dan Sipayung, 1978). Karena bahan bakunya adalah bahan kimia yang sangat berbahaya, ijin harus diperlukan dari Komisi Pestisida untuk tujuan dan cara aplikasi dan saat ini sudah tidak dikeluarkan lagi. 

Insektisida  yang direkomendasikan oleh Komisi Pestisida Indonesia tahun 2016 untuk hama Metisa plana adalah Abakmektin (Badik 18 EC), Abamektin + Sipermetrin (Limpidor 30/125 EC), Asefat (Ace-One 75 SP, Antong 75 SP, Chepate 75 SP, Lancer75 SP, Manthene 75 SP, Orthene 75, SP, Ortran 75 SP, Besqueen 80 SP, Jossefat 80 SP), Bacillus thuringiensis (DiPel SC), Deltametrin (Percis 30 SC), Diazinon (Diazinon 600 EC, Sidazinon 600 EC), Dimehipo (E-To 400 SL, Feltus 400 SL, Defron 500 SL, Manuver 6 GR), Emamektin benzoat (Provide-X 21/45 SC), Karbosulfan (Respect 200 EC), Klorantraniliprol (Prevathon 50 SC), Metomil (Dangke 40 WP), Sipermetrin (Capture 50 EC, Astertrin 250 EC), Tiodikarb + Triflumuron (Destello 480 SC), Triflumuron (Alsystin 480 SC).





Sumber 
1. http://erlanardianarismansyah.blogspot.co.id/2016/04/ulat-kantong-pteroma-pendula-pada.html
2. Jurnal Agroekoteknologi FP USU Vol.5.No.4, Oktober 2017 (118): 922- 931