Rabu, 31 Januari 2018

Tehnik Penggunaan Pestisida/Herbisda



Setelah melakukan penyemprotan, maka pestisida akan terkena pengaruh lingkungan. Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi setelah pestisida disemprotkan, maka akan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan sehingga pemakaian pestisida bisa mengikuti prinsip 4 tepat.

Setelah penyemprotan, kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah tiupan angin terhadap kabut semprot, sehingga pestisida akan jatuh di tempat yang tidak diharapkan. Walaupun kabut semprot dapat mengenai sasaran, tetapi sebarannya sudah tidak merata, atau  terlalu banyak kabut semprot yang terbuang, sehingga terjadi pemborosan pestisida. Kalau hal ini terjadi pada herbisida, maka tanaman utama akan beresiko terkena kabut semprot. Oleh karena itu disarankan penyemprotan tidak dilakukan saat angin bertiup kencang. Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah :
  • Run off, sebagian kabut semprot yang membasahi daun akan mengalir dan jatuh ke tanah, tetesan pestisida yang jatuh ke tanah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
  • Penguapan, sebaiknya penyemprotan tidak dilakukan saat matahari terik.
  • Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif karena pengaruh cahaya, sehingga efektifitas pestisida berkurang.
  • Penyerapan oleh partikel tanah, menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah sehingga menyebabkan pencemaran tanah. Selain itu penyerapan oleh tanah juga akan menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan OPT yang terdapat di dalam tanah.
  • Pencucian pestisida oleh air hujan dan terbawa ke dalam lapisan tanah bagian bawah sehingga mencemari sumber air tanah.
  • Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif atau tidak beracun.
  • Perombakan oleh mikro organisme, bahan pembentuk pestisida setelah jatuh ketanah akan menjadi bagian tubuh mikro organisme.
DOSIS, KONSENTRASI DAN VOLUME
Istilah di atas sering kita jumpai di label kemasan pestisida. Dosis, konsentrasi, dan volume semprot itu mengacu pada pemakaian pestisida. Sepintas kelihatan tidak penting sehingga tidak banyak orang yang peduli dengan istilah tersebut. Padahal tiga istilah itu sangat penting dalam pemakaian pestisida sehingga penggunaan racun dapat lebih optimal, tepat dan aman.

Dosis
Dosis adalah jumlah pestisida yang digunakan dalam luasan tertentu, biasanya dalam satuan liter per ha. racun yang akan digunakan akan dicampur dengan air atau diencerkan terlebih dahulu baru digunakan.
Dosis anjuran pemakaian pestisida sebaiknya dipatuhi. Pemakaiannya secara berlebihan bisa menyebabkan penyemprotan yang kurang optimal dan dapat merusak lingkungan (jika dipakai melebihi dosis anjuran), jika penggunaan racun lebih rendah dari petunjuknya maka hasil penyemprotan pestisida tidak akan memuaskan.

Konsentrasi racun 
Biasanya konsentrasi pada label kemasan produk memiliki beberapa istilah salah satunya yaitu konsentrasi formulasi, konsentrasi bahan aktif, dan konsentrasi larutan.
Konsentrasi formulasi adalah banyaknya pestisida dihitung dalam cc atau gram bahan pestisida per liter air, sedangkan konsentrasi bahan aktif  atau konsentrasi larurtan adalah persentase bahan aktif yang terdapat dalam larutan jadi (satuan persen).
Contoh
  • Herbisida AMIPYR bahan aktif Triclopyr 600g/l artinya dalam 1 liter herbisida tersebut memiliki 600 gram Triclopyr.
  • Herbisida AMIRON-M bahan aktif Metsulfuron methyl 20% artinya dalam 1 kg herbisida tersebut memiliki 20 % racun Metsulfuron methyl.
Volume Semprot
Volume semprot adalah jumlah larutan racun yang dibutuhkan dalam penyemprotan pestisida untuk luasan tertentu.Biasanya ada kekeliruan dalam mengartikan volume semprot itu sendiri dimana volume semprot diartikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan dalam penyemprotan. padahal arti yang sebenarnya yaitu jumlah air dan racun yang dibutuhkan untuk penyemprotan (jumlah akhir setelah dicampur pestisida)
contoh jika dibutuhkan volume semprot sebanyak 30 liter untuk penyemprotan 1 ha maka dalam 30 liter tersebut terdapat 29 liter air dan 1 liter pestisida (jika dosis 1 liter pestisida per ha)

PETUNJUK PENCAMPURAN PESTISIDA
  • Jangan mencampur pestisida di tempat tertutup, lakukan pencampuran di tempat terbuka.
  • Jangan menyimpan campuran pestisida, pencampuran pestisida dengan air hanya dilakukan saat penyemprotan.
  • Gunakan air bersih dan tidak mengandung kotoran yang dapat menyumbat nozel.
  • Masukkan air terlebih dahulu ke dalam tangki, baru pestisida dimasukkan dan diaduk.
  • Jangan menggunakan pestisida yang terlalu lama disimpan dan sudah mengalami perubahan fisik, seperti terbentuknya garam di sekitar tutup botol atau terjadi perubahan warna.
  • Jangan melakukan pencampuran pestisida yang satu dengan yang lain jika belum yakin bahwa kedua jenis pestisida tersebut dapat dicampur. Lakukan pengetesan, jika setelah pencampuran dua jenis pestisida terbentuk endapan, atau terbentuk lapisan yang tidak menyatu, seperti minyak dengan air, atau seperti santan pecah, maka kedua jenis pestisida tersebut tidak kompatible untuk dicampur.
  • Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih yang mempunyai cara kerja sama, sebagai contoh: Racun pernafasan dengan racun pernafasan, kontak dengan kontak atau sistemik dengan sistemik.
  • Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih dalam satu golongan, sebagai contoh: piretroid dengan piretroid atau karbamat dengan karbamat.
  • Buatlah campuran pestisida sesuai perhitungan luas areal yang akan disemprot.
  • Jangan meningkatkan dosis atau konsentrasi lebih tinggi dari kisaran yang tertera pada label. Jika pada dosis atau konsentrasi tertinggi sesuai yang tercantum pada kemasan suatu pestisida tidak lagi efektif mengendalikan OPT sasaran, maka disarankan untuk mengganti dengan bahan aktif yang berbeda.

Cara Kerja Pestisida/Herbisida


Racun Kontak
Pestisida jenis ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan OPT sasaran.  Untuk jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan serangga yang menetap, seperti ulat, kutu daun,  dan semut. Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-serangga yang mempunyai mobilitas tinggi, seperti lalat, kutu kebul, dan belalang.

Racun Pernapasan
Cara kerja racun pernapasan hanya ada pada insektisida dan akan bekerja jika terhisap melalui organ pernafasan. Waktu penyemprotan yang paling efektif adalah ketika hama sasaran sedang berada pada puncak aktifitasnya, sehingga dengan pernapasan yang semakin cepat maka semakin banyak pula racun yang dihisap.

Racun Perut/Lambung
Racun dalam pestisida jenis ini akan bekerja jika bagian tanaman yang sudah disemprot termakan oleh hama/serangga sasaran. Beberapa rodentisida dan insektisida bekerja dengan cara ini.

Racun Sistemik
Pestisida jenis ini akan bekerja jika racun yang disemprotkan ke bagian tanaman sudah terserap masuk ke dalam jaringan tanaman baik melalui akar maupun daun sehingga dapat membunuh OPT yang berada di dalam jaringan tanaman, seperti bakteri/fungi. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati kalau sudah memakan atau menghisap cairan tanaman yang sudah menyerap racun. Cairan atau bagian tanaman yang dimakan akan menjadi racun lambung bagi serangga. Racun sistemik sangat cocok untuk mengendalikan serangga penghisap atau serangga yang sulit dikendalikan menggunakan racun kontak.

Herbisida  Purna Tumbuh dan Pra Tumbuh
Pada herbisida purna tumbuh hanya akan bekerja pada bagian tanaman yang sudah memiliki organ sempurna, seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan herbisida pra tumbuh akan mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

FORMULASI PESTISIDA/HERBISIDA

Sering kita membaca pada label pestisida mempunya kode seperi 240 EC atau 250 g/l dan lain sebainya, berikut ini istilah formulasi pestisda yang sering kita jumpai pada label pestisida yang ada

Water Dispersable Granule (WDG)
Bentuk butiran halus, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan dalam air. Tetapi formulasi ini dalam air agak kurang stabil sehingga mudah mengendap.

Emulsifiable Concentrate (EC)
Dibentuk dengan mencampurkan bahan aktif pestisida yang hanya larut dalam minyak dengan penambahan emulsi. Dengan demikian bahan aktif yang hanya larut dalam minyak dapat larut dalam air dan membentuk cairan seperti susu. Formulasi ini sangat stabil sehingga tidak dibutuhkan pengadukan berulang-ulang.

Salt Concentrate (SC)
Dibentuk dengan menggabungkan bahan aktif dari turunan (derifatif) garam dengan air. Bersifat cepat larut dan menyebar merata dalam air.

Wettable Powder (WP)
Dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut rendah dan mengandung bahan tambahan (filler). Bahan aktif direkatkan pada bahan tambahan dengan bahan perekat.

Granule (G)
Berbentuk butiran padat dengan ukuran bervariasi sehingga formulasi ini mudah ditebarkan. Merupakan campuran antara bahan aktif dengan butiran yang mampu mengikat ion, seperti butiran liat atau vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer seperti kapsul.

Ultra Low Volume (ULV)

Formulasi ini berbentuk cair dengan kandungan bahan aktif sangat tinggi. Dirancang untuk disemprotkan dengan alat khusus, yaitu ULV

Selasa, 30 Januari 2018

Gulma Ilalang

Alang-alang atau ilalang (Imperata cylindrica L) adalah tanaman perintis yang sering tumbuh di lahan-lahan kosong maupun di bekas sawah dan ladang. Sayangnya alang-alang juga biasanya menjadi gulma karena tumbuh di perkebunan dan mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya. Tanaman ini bisa hidup dengan baik di daerah-daerah yang banyak mengandung air dan mendapatkan cukup sinar matahari.

Ilalang merupakan tumbuhan rumput yang berbatang lunak dan membulat. Daunnya tipis, bertekstur licin dan diselubungi rambut, serta memiliki warna hijau gelap hingga terang. Sistem perakarannya ditunjang rimpang yang kuat sehingga sulit dicabut. Sedangkan bunga ilalang berwarna putih, berupa bulir majemuk, agak menguncup, dan mudah diterbangkan angin.

Proses perkembangbiakan alang-alang berlangsung sangat cepat. Benih-benihnya gampang sekali diterbangkan angin dan tumbuh menjadi tanaman dewasa. Sementara itu, rimpang ilalang yang juga merupakan bakal tanaman dewasa dapat menembus tanah sampai kedalamanan 1 meter. Hal ini sering mengakibatkan upaya pemberantasan gulma alang-alang tergolong cukup sulit dilakukan.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dikerjakan untuk mengendalikan pertumbuhan alang-alang di perkebunan kelapa sawit!

Manual
Untuk area perkebunan kelapa sawit dengan ukuran yang tidak terlalu luas, upaya pengentasan ilalang secara manual bisa menjadi solusi yang dapat diandalkan. Kelebihan dari metode ini yaitu bersifat ramah lingkungan dan tidak memakan biaya yang cukup besar. Teknik ini dilakukan dengan memotong rimpang ilalang lalu biomasa-nya dikeringkan di atas tanah atau ditimbun di lubang yang cukup dalam. Adapun peralatan yang digunakan meliputi cangkul, sekop, dan garpu.

Mekanis
Secara mekanis, pemberantasan alang-alang menggunakan bantuan traktor. Alternatif lain bisa juga memanfaatkan bajak yang digerakkan oleh tenaga hewan ternak. Walaupun teknik mudah dan cepat, namun tidak memakan waktu yang lama alang-alang bakal tumbuh kembali.

Biologis
Alang-alang tidak akan tumbuh di tempat yang tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Sehingga Anda bisa memelihara tanaman penutup tanah seperti kacang-kacangan. Keuntungan lainnya tanaman kacang-kacangan juga dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan nitrogen, mencegah erosi, dan menjaga kelembaban tanah. Selain itu, daun dari tanaman ini juga dapat dipakai untuk pakan hewan ternak.

Kimiawi
Karena dapat menimbulkan dampak yang serius bagi lahan budidaya, pengendalian gulma menggunakan metode kimiawi sebaiknya dipilih sebagai opsi terakhir bila cara-cara lain tidak cukup efektif. Bahan kimia yang digunakan berupa herbisida. Dalam penerapannya nanti, Anda wajib mematuhi petunjuk pemakaian dari produk herbisida tersebut agar tidak menimbulkan dampak negatif yang serius.

Merk Herbisida yang beredar di Indonesia yang mempunyai ijin edar ada 13 merek terdaftar yaitu

No Merek Terdaftar Perusahaan
1 Basmilang 480 SL PT. Petrokimia Kayaku
2 Basmirumput 495 CV. Mahakam
3 Basta 150 SL PT. Bayer Indonesia
4 Gesapax 500 SC PT. Syngenta Indonesia
5 Glibas 480 SL PT Wilmar Chemical Industri (info)
6 Glimax 480 SL PT Sentana Adidaya Pratama (info)
7 Kleenup 480 SL PT. Nufarm
8 Mortir 480 SL PT Indagro (info)
9 Roundup 486 SL PT. Nufarm
10 Sanstar 480 SL PT. Santani Sejahtera
11 Smart480 SL PT. Agro Natural
12 Touchup 480 SL PT. Agri Kimia Nusantara
13 Uniquat 276 SL PT UPL Indonesia (info)


Sumber : http://klpswt.blogspot.co.id/2015/12/4-cara-pengendalian-gulma-alang-alang.html (diolah)

Ekspor dan Impor Herbisida Tahun 2014


EKSPOR
Ekspor Herbisida Indonesia pada tahun 2014 sebesar 15,45 ribu ton dengan nilai 99,57 juta ton, yang terbagi dalam 6 HS yakni HS 3808503100 (Herbicides in aerosol containers)HS 3808503900 (Oth herbicides in aerosol containers), HS 3808504000 (Herbicides, anti-sprouting products subhnote 1), 3808505000 (Herbicides plant-growth reg subhd note 1), 3808931900 (Oth herbicides,anti-sprouting product &plant-growth regulator in aerosol cont), 3808932000 (Herbicides, anti-sprouting products notsubhd note 1), dengan tujuan ekspor terbesar adalah singapore dengan volume 2.782,56 Ton, disusul oleh vietnam sebesar 2.533,92 Ton, dan China sebesar 2.374,22 Ton  untuk lebih jelasnya dapat disampaikan pada table berikut :

HS Negara Volume KG Nilai US $
3808503100 SINGAPORE 47.795 107.622
PHILIPPINES 833.538 1.815.351
MALDIVES 11.376 41.400
EAST TIMOR 14.724 31.167
3808503900 PHILIPPINES 12 7
MALAYSIA 228 228
GABON 9.505 64.864
EAST TIMOR 305 203
3808504000 HONG KONG 10.160 17.433
PAPUA NEW GUINEA 648 1.296
THAILAND 5.661 7.989
SINGAPORE 670.038 1.093.663
MALAYSIA 972.844 1.579.957
3808505000 THAILAND 9.195 147.928
PHILIPPINES 25.086 408.686
VIET NAM 49.448 226.346
SRI LANKA 484 6.159
GABON 5.149 36.719
3808931900 TAIWAN 120.375 1.518.970
CHINA 2.374.225 40.374.250
THAILAND 935.311 13.988.733
SINGAPORE 2.782.565 9.235.432
PHILIPPINES 2.152.053 3.349.739
MALAYSIA 836.786 6.444.413
MYANMAR (FORM. BURMA) 3.239 123.399
CAMBODIA 1.008 127.486
VIET NAM 2.484.476 9.487.567
INDIA 18.800 1.091.463
BANGLADESH 26.330 343.177
SRI LANKA 712.159 3.773.775
ISRAEL 14.520 66.480
ETHIOPIA 784 45.168
GHANA 22.985 72.665
NIGERIA 101.983 277.019
AUSTRALIA 72.015 892.572
NEW ZEALAND 12.324 355.686
UNITED STATES 5.000 691.050
ECUADOR 15.496 229.289
GERMANY, FED. REP. OF 50 1.250.000
3808932000 NIGERIA 86.800 219.400
SOLOMON ISLANDS 6.000 26.300
SINGAPORE 8.302 7.254
      Total 15.459.782 99.578.305

IMPOR
Sementara Impor Herbisida Indonesia yang tergabung dalam 5 HS yakni HS 3402119100 (Wetting agents of a kind used in themanufacture of herbicides), 3808502900 (Oth fungicides in aerosol containers), 3808503900 (Oth herbicides in aerosol containers), 3808504000 (Herbicides, anti-sprouting products subhnote 1), 3808505000 (Herbicides plant-growth reg subhd note 1), dengan volume impor sebesar 4.143,54 ton dengan nilai  US 13,65 juta, dengan volume impor terbesar dari China sebesar 1,026 juta Ton dengan nilai US$ 3,164 juta, berikut tabel Impor Herbisida Indonesia Tahun 2014.

HS Negara Volume KG Nilai US $
3402119100 JAPAN 262 1.844
TAIWAN 1.625 6.880
CHINA 38.800 147.820
SINGAPORE 1.612.384 5.743.792
PHILIPPINES 3 13
MALAYSIA 7.265 16.500
INDONESIA 18 622
AUSTRALIA 107.320 308.641
UNITED STATES 20.710 77.574
BRAZIL 10 256
FRANCE 5.568 183.494
GERMANY, FED. REP. OF 2.496 6.723
SWITZERLAND 16.000 28.480
SPAIN 219 4.518
3808502900 BELGIUM 40.595 117.045
ITALY 9 506
SPAIN 73.050 112.335
3808503900 CHINA 92.493 566.770
THAILAND 90.942 379.848
MALAYSIA 829.322 617.156
GERMANY, FED. REP. OF 63.103 1.604.756
3808504000 JAPAN 741 2.400
HONG KONG 177.184 945.763
CHINA 746.552 1.827.420
MALAYSIA 42.750 202.350
UNITED STATES 4.528 20.478
UNITED KINGDOM 190 2.454
FRANCE 4.545 23.068
GERMANY, FED. REP. OF 6.000 64.479
3808505000 CHINA 149.058 621.994
MALAYSIA 9.375 18.678
UNITED STATES 29 1.236
GERMANY, FED. REP. OF 400 2.320
Jumlah Total 4.143.546 13.658.213

Herbisda Bahan Aktif Fluroksipir Metil Heptil E


Fluroksipir adalah herbisida nonfenoksi yang dapat ditranslokasikan dan memperlihatkan tingkat aktivitas yang tinggi terhadap gulma berdaun lebar.  Fluroksipir tergolong ke dalam herbisida auksin. Pada dosis rendah bersifat sebagai auksin, namun pada dosis yang tinggi bersifat sebagai herbisida (mematikan). Fluroksipir mempengaruhi sintesis lemak dan RNA 

Terganggunya sintesis lemak sebagai salah satu komponen membran sel akan diikuti oleh terganggtmya proses-proses biokimia yang lain. Sedangkan terganggunya sintesis RNA akan mempengaruhi transfer infomasi genetik, selanjutnya berpengaruh pada pertumbuhan, bentuk, dan fungsi organ tanaman (epinasti, bengkok batang, daun keriting) Fluroksipir juga mempengaruhi kemampuan tanaman dalam metabolisme nitmgen dan produksi enzim, Fluroksipir efektif untuk mengendalikan gulma berdaun lebar antara lain , Ageratum conyzoides (Babadotan),  Synedrella nodiflora, Melastoma affine (Senduduk) dan lainnya

Herbisida yang berbahan aktif Fluroksipir Metil Heptil Ester. Adalah herbisida purna tumbuh yang mudah di serap oleh daun gulma, mudah ditranslokasikan ke seluruh bagian gulma, dan mengendalikan gulma lebuh lama tanpa efek samping terhadap tanaman pokok.

Keunggulan Fluroksipir Metil Heptil Ester adalah mampu mengendalikan gulma daun lebar dan invasive, seperti Mikania sp, dan gulma merapat lainnya, aman di gunakan pada tanaman pokok, termasuk pada tanahan immature stage (TBM), tidak menyebabkan partenocarpy, efektif pada dosis rendah dan waktu pengendalian yang lebuh lama. cepat diserap daun gulma, hujan1 jam setelah aplikasi tidak menurunkan efikasi, dan dapat di campur fengan herbisida lain untuk memperluas spektrum pengendalian. 

Hanya ada 8 merek terdaftar di Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian yakni

No Merek Dagang Pemegang Terdaftar
1 Erkaren 290 EC PT Rolimex Kimia Nusantara
2 Erkaren 480 EC PT Rolimex Kimia Nusantara
3 Fluran 290 EC PT Remaja Bangun Kencana
4 Kenrane 288 EC PT Kenso Indonesia
5 Roxy 300 EC PT Agro Sejahtera Indonesia
6 Starane 290 EC PT Dow Agrosciences Indonesia
7 Starane 480 EC PT Dow Agrosciences Indonesia
8 Startrex 288 EC PT Petrokimia Kayaku

Pengendalian Gulma di Perkebunan


Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannya secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman pokok. Dalam pengertian ini, semua praktik budi daya di pertanaman (sejak penyiangan lahan) dapat dibedakan anatara yang lebih meningkatkan daya saing tanaman pokok atau yang meningkatkan daya saing gulma. Praktik budi daya yang keliru akan berakibat pada meningkatkan daya saing gulma

JENIS JENIS GULMA
Berdasarkan tingkat pertumbuhan dan kompetensinya, gulma di dalam dunia perkebunan khususnya kelapa sawit dapat dikelompokan menjadi 4 ( empat ) klas.
  • Klas A dimana gulma Sangat berbahaya dan harus dieradikasi, sifat-sifat gulma karena, Sangat kompetitif, Mengeluarkan zat racun yang menghambat pertumbuhan tanaman, Sebagai inang alternative hama dan penyakit,  Mengganggu pekerja ( contoh: bambu,lalang,putihan,dan lain-lain)
  • Klas B adalah Gulma klas ini sangat berbahaya,kompetitif yang harus dikendalikan secara terus menerus dan apabila perlu harus dieradikasi (di musnahkan)
  • Klas C gulma klas ini kurang kompetitif dan dapat ditolerir, akan tetapi memerlukan pengendalian yang teratur, serta bermanfaat untuk mencegah erosi.
  • Klas D, merupakan gulma bermanfaat kurang kompetitif dan keberadaannya perlu dipertahankan. (Contoh : Ageratum, Euphorbia heterophylla, Hyptus Spp, Cleome Spp.)

Nama Botani Nama Umum Klas Toleransi Gulma
K. Sawit Karet Kakao
Kelompok Rumput-Rumputan
Axonopus copressus Rumput pakisan C C C
Bambosa spp Bambu A A A
Brachiaria mutica Rumput Melala A A A
Centhothcca lappacea Rumput lilit kain B B B
Cholis Barbata Rumput plush C C C
Chrysopogon aGMP-Kulatus Rumput jarum C C C
Crytococum ascrescens Rumput panic C C C
Cynodone dactylon Rumput grintingan C C C
Digitaria adscendens Rumput cakar ayam C C C
Enchinochloa colomun Rumput hutan C C C
Elensine indica Jakut jampang B B B
Ischaemun muticum Lalang A A A
Ischaemun timorense Rumput kemarau B B B
Othochloa nodosa Rumput tembaga timur B B B
Panicum repens Rumput kawatan B B B
Panicum sarmentorum Rumput lempuyangan A A A
Paspalum commersonii Rumput sarang buaya A A A
Panisetum purpureum Rumput kerbau C C C
Panisetum sentosum Rumput gajah B B B
Setaria Palifora Rumput ekor kucing A A A
Remeda arguens Rumput bambu C C C
Ripsacum laxum Rumput primping B B B
Teki-Tekian.
Cyperus spaceolatus Teki B/C B/C B/C
Cyperus rotundus Teki B B B
Fimristylis spp Teki B/C B/C B/C
Scleria sematrensis Rumput Lumpur B B B
Gulma Daun Lebar (Monokotil)
Colocasia spp Keladi,talas A/B A/B A/B
Commenlina nudiflora Rumput alur B/C B/C B/C
Curculigo vilosa Lumba B B B
Dianella sp Siak jantan B B B
Elettariospsis curtisii Jahe liar A A A
Globa pendula Jahe liar A A A
Musa spp Pisang liar A
Gulma Daun Lebar( Dikotil)
Ageratum conyzoides Babadotan D D D
Amaranthus intrusa Bayam duri C/D C/D C/D
Borreria laericaulis Pengorak B B B
Brrreria latifolia Gendong anak B B B
Cassia alata Gendong anak C C C
Cassia cobanensis Gelanggang A A A
Cassia tora Gelanggang A A A
Chromolaena odorata Kacang kasia B B B
Cleome aciliata Putihan A A A
Clidemia hirta Maman D D D
Cordia currassavica Herendong A A A
Croton hirtus Sckendal A A A
Euphorbia heterophylla Ara tanah D D D
Hyptis brevipes Patik mas D D D
Melastoma affine Senduduk B B B
Melassoma malabrathicum Bunga tahi ayam A A A
Mikania micrantha Sembuk rambat A A A
Mimosa invisa Mikania B B B
Mimosa pigra Kucingan B B B
Mimosa Pudica Kucingan gajah A A A
Passiflora foetida Utri malu B/C B/C B/C
Sida acuta Markisa hutan B/C C B
Salamum torrum Lidah ular C C B/C
Stachytarpheta indica Rimbang-rimbangan B B A
Tetracera scandens Jarong C C B/C
Mampelas A A A
Pakis – Pakisan
Abacopteris triphylla Pakis B B B
Adiantum tetraphyllum Pakis C C B
Athyrium malaccence Pakis malaka C C B
Cyclosorus aridus Pakis kadal B/C B/C B
Dicranopteris linearis Pakis kawat A A A
Nephrolepsis biserrata Pakis larat C C C
Pteridium esculentum Pakis gajah A A A
Stenochlaena palustris Pakis undang A A A

KERUGIAN AKIBAT GULMA
Pada prisipnya perawatan tanaman adalah pekerjaan mengendalikan gulma pada tanaman kelapa sawit, untuk menghindari daya saing antara gulma dan tanaman kelapa sawit, tumbuhnya gulma pada areal kelapa sawit sdikit banyak akan mengurangi prdoduktifitas tanaman antara lain :
  • Menurunkan produksi tanaman kelapa sawit, akibat bersaing dengan gulma dalam mengambil unsur hara dari tanah, sinar matahari dan ruang hidup.
  • Menurunkan produktifitas tanaman kelapa sawit, akibat terkontaminasi oleh bagian bagian tanaman gulma
  • Sebahagian gulma mengeluarkan zat aleopati yang sangat merugikan tanaman kelapa sawit karena mengganggu pertumbuhannya
  • Tempat persembunyian bagi hama tanaman kelapa sawit, dan jiga sebagai inang hama, yang sewaktu waktu dapat menghantam tanaman dalam skala besar dan serentak.
  • Menggangu tata kelola air pada tanaman karena kelancaran buangan air bisa terhambat oleh gulma sehingga sangat memungkinkan bisa menjadikan areal tergenang
Secara umum, metode pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit belum ada yang benar benar dapat menekan gulma secara keseluruhan, adakalanya metode yang diterapkan pada jenis gulma yang satu mampu menekan pertumbahan gulma pada fase yang baik, tetapi adakalanya metode tersebut tidak tepat pada pengendalian gulma lainnya.

Disinilah dituntut pengetahuan tentang jenis jenis gulma yang ada di perkebunan dan bagaimana mengendalikannya, baik secara manual maupun chimestry, disamping juga tehnis pengendalian dan faktor biaya yang akan di keluarkan, dengan menggunakan prinsip dasar ekonomi, dimana apabila kondisi gulma yang ada masih dibawah biaya pengendaliannya maka untuk sementara belum dilakukan pengendalian, sehingga pengendalian gulma dapat terjaga dan terjadwal dengan baik, dan biaya dapat di pergunakan dengan tepat guna dan tepat sasaran.

Sasaran pengendalian gulma pada lahan kelapa sawit yakni pada dua tempat pada piringan dan gawangan, prinsip dasar pengendalian gulma yakni membersihhkan gulma seperti rumput pada piringan, memberantas ilalang pada piringan dan gawangan serta  tanaman pengganggu di gawangan seperti anak kayu.

Thn Gulma Bahan Aktif Dosis(cc/gr)
0 - 3  Rumput + LCC + Daun Lebar Glifosat + Metsulfuron Methyl 1,5 L + 75 Gr
Mikania + Daun Lebar + Rumput Glifosat + Fluroksipir Metil Heptil Ester 1.5 L + 0.3 L
Pakis + Daun Lebar + Rumput Paraquat Diklorida + Metsulfuron Methyl 1.5 L + 75 G
Lalang Sheet Glifosat 5,0 L
3- 5 Rumput + LCC + Daun Lebar Glifosat + Metsulfuron Methyl 1,0 L + 50 Gr
Mikania + Daun Lebar + Rumput Glifosat + Fluroksipir Metil Heptil Ester 1.0 L + 0.3 L
Pakis + Daun Lebar + Rumput Paraquat Diklorida + Metsulfuron Methyl 1.0 L+ 50 G
Lalang Sheet Glifosat 3,0 L
> 5 Rumput + LCC + Daun Lebar Glifosat + Metsulfuron Methyl 1,0 L + 50 Gr
Mikania + Daun Lebar + Rumput Glifosat + Fluroksipir Metil Heptil Ester 1.0 L + 0.3 L
Pakis + Daun Lebar + Rumput Paraquat Diklorida + Metsulfuron Methyl 0,5 L + 25 G
Lalang Sheet Glifosat 3,0 L











Catatan untuk Fluroksipir dapat di ganti dengan Triklophir Butok Etil Ester

Untuk merek dan Jenis bahan aktif pembasmi Gulma dapat dilihat pada link di bawah ini
1. Glifosat
2. Paraquat Khlorida
3. Metsufuron Methil
4. Triklopir Butok Etil Ester
5. Fluroksipir - metil Ester