Kamis, 01 Februari 2018

Karakteristik Pasar CPO Uni Eropa

Menurut penelitian, kawasan Eropa merupakan pasar terbesar bagi  produk minyak kelapa sawit atau crude palm oil, (CPO) Indonesia.  Eropa sangat menyukai produk kelapa sawit dan hal tersebut berarti negara-negara di Eropa merupakan pasar utama  bagi Indonesia.  Luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia  merupakan terluas di dunia, namun memang ada dampak terhadap kerusakan lingkungan akibat praktek perluasan perkebunan itu. Dari hasil penelitian memang ada beberapa perusahaan yang telah menerapkan methane capture dari proses pengolahan kelapa sawit, dan hasilnya adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghemat biaya listrik. 

Sebagaimana diketahui pasar ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa baik cukup baik dan tetap pemberlakuan kuota atau tarif baru. Pasar Uni Eropa tidak merintangi ekspor CPO dari Indonesia sehubungan dengan sosialisasi kebijakan yang terkait dengan energi terbarukan di EU (the EU RED Directive) yang berlaku Desember tahun ini. Konsumen EU tetap ingin membeli CPO Indonesia yang berkualitas baik dan pihaknya ingin mendukung perdagangan yang menguntungkan ini.

Namun perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor itu perlu menyadari dan melihat perubahan kecenderungan konsumen. Tuntutan konsumen Eropa akan produk-produk yang ramah lingkungan terus meningkat. Sehingga ini sebenarnya merupakan kesempatan pasar bagi produsen CPO Indonesia untuk memanfaatkan peluang ini dan perusahaan-perusahaan yang memperhatikan kelangsungan lingkungan akan memiliki keuntungan kompetitif. Karena sekitar 90% dari perdagangan CPO yang diekspor ke kasawan Eropa itu digunakan untuk bahan baku makanan, kosmetik, shampo dan diterjen. Selain itu sekitar 10% CPO Indonesia di pasar Eropa sudah digunakan untuk biodiesel.

The EU RED Directive hanya berlaku dalam perdagangan bahan bakar nabati (biofuel) dan akan memungkinkan insentif ditawarkan bagi biofuel yang diproduksi secara ramah lingkungan. Kebijakan tersebut berlaku untuk semua eksportir produk tersebut dari seluruh dunia, tidak hanya bagi Indonesia atau Malaysia sebagai eksportir terbesar. Untuk biofuel, negara-negara anggota Uni Eropa akan menawarkan insentif tambahan untuk mempromosikan penggunaan bahan bakar yang diproduksi secara ramah lingkungan. Peluang-peluang ekspor bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia akan meningkat.

Menurut Direktur WWF Indonesia, bahwa kebijakan Eropa tersebut merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengekspor minyak sawit khususnya untuk pasar biodiesel ke Eropa.

Berkaitan dengan peraturan EU Directive, Indonesia akan bekerjasama dengan Belanda dan Jerman mengenai emisi gas rumah kaca. Sebab UE merupakan pasar penting bagi CPO nasional sebab ekspor ke negara tersebut setiap tahunnya mencapai 2,7-2,9 juta ton. Sehingga tidak mudah untuk mencari pasar pengganti dengan jumlah yang diekspor sebesar itu. Selain itu, beberapa produsen Indonesia sudah memiliki beberapa fasilitas pabrik di sana.

Untuk mempertahankan ekspor, Indonesia mengembangkan pasar baru maupun memperbesar pasar yang sudah ada. Misalnya Pakistan, Bangladesh, dan Eropa Timur serta China. Meskipun demikian, Uni Eropa tidak bisa ditinggalkan karena termasuk pasar potensial CPO Indonesia.

Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Perkebunan, hingga saat ini di Indonesia tercatat sedikitnya ada seratus  perusahaan sawit yang sudah mendapatkan sertifikasi RSPO. Perusahaan itu diantarannya adalah PT Musim Mas di Sorek (Riau) yang memproleh sertifikasi RSPO pada 19 Januari 2009.  PT Hindoli di Sumatera Selatan pada 26 Februari 2009 dan PT PP London Sumatera di Sumatera Utara pada 30 April 2009.  Dari ketiga perusahaan itu, total CPO yang memiliki RSPO sudah menghasilkan  sekitar 1,7 juta ton. Sedangkan pada tahun 2011 tercatat sudah 70 perusahaan memperolah sertifikat RSPO dengan produksi yang dihasilkan sekitar 3.6 juta ton.  Padahal, total keseluruhan produksi CPO Indonesia sudah mencapai 22,5  juta ton dan  sekitar 12.1  juta ton dialokasikan untuk keperluan pasar dalam negeri. PT. Sime Indo Agro di Kalimantan Barat, PT Bakrie Sumatera Plantation di Kisaran, PT Indotruba Tengah Plantatiom di Kalimantan Tengah. PT Tunggal Mitra,PT.Berkat Sawit Sejati dan PT. Agrowiratama di Sumatera Barat dan lain sebagainya

Sebagaimana diketahui, pasar Eropa, khususnya Eropa Barat sebenarnya bukanlah pasar utama minyak sawit Indonesia. Ekspor Indonesia ke Eropa setip tahunnya hanya  hanya sekitar 16,3%, dan yang cukup besar hanya ke Belanda.

Belanda dan Jerman adalah termasuk dalam 10 besar pengimpor minyak sawit dunia. Di Eropa Barat, CPO banyak digunakan untuk biodiesel dan hanya sebagian kecil untuk minyak makan, yang hingga kini perkembangannya juga belum menjanjikan. Eropa Barat masih mengandalkan minyak rapeseed, bunga matahari, dan kedelai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, justru minyak sawit dihambat masuk ke Eropa Barat untuk melindungi produsen minyak-minyak nabati di atas. Jadi prospek ekspor kita ke Eropa terutama Eropa Barat masih belum bahkan tidak menjanjikan, dan petani plasma tidak perlu resah jika belum mendapatkan sertifikasi RSPO karena pasar sawit Indonesia masih banyak yang prospektif. Selain itu Indonesia perlu memperluas pasar ekspor dan mengembangkan pasar yang sudah ada, selain Eropa Barat.

Persaingan Bisnis CPO Indonesia VS Malaysia


Tidak dipungkiri, Indonesia mengandalkan komoditas minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai produk andalan ekspor yang bisa bersaing di pasar internasional. Wajar jika pemerintah ngotot meyakinkan dunia internasional bahwa CPO Indonesia ramah lingkungan.
Namun, segala daya upaya yang dilakukan pemerintah belum membuahkan hasil. CPO Indonesia tetap ditolak masuk dalam daftar produk ramah lingkungan yang bebas bea masuk. Padahal, pemerintah sesumbar Indonesia bisa menjadi pemain utama sekaligus raja dalam perdagangan kelapa sawit dunia. Produksi kelapa sawit Indonesia hingga tahun 2015 sudah mencapai 30 juta ton
Dan dengan bangga indonesia telah mampu mengalahkan produksi CPO Malaysia sejak tahun 2006 pada saat itu produksi indonesia 16,56 juta ton sementara Malaysia hanya mencapai produksi 15,88 juta ton. Dalam persaingan untuk menjadi raja kelapa sawit dunia, Indonesia selalu dibayangi Malaysia.

Untuk menjadi penguasa sekaligus raja dalam bisnis kelapa sawit dunia, Indonesia harus bersaing dengan negara tetangga Malaysia yang juga memiliki catatan positif terkait produksi kelapa sawit. Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara pengekspor CPO terbesar di dunia. Hasil riset Rabobank beberapa waktu lalu menyebutkan, Indonesia dan Malaysia masih mendominasi produksi minyak sawit dunia dengan kontribusi 85 persen dari seluruh pasokan yang jadi kebutuhan dunia. Indonesia sendiri mengkontribusikan 48 persen dari total volume produksi minyak sawit dunia sedangkan Malaysia sebesar 37 persen.

Persaingan antara Indonesia-Malaysia untuk menjadi raja minyak sawit, bisa dikatakan sangat ketat. Dimulai dari produksi CPO. Dari riset Rabobank, produksi dan ekspor sawit Indonesia telah melampaui Malaysia sejak beberapa tahun terakhir. Indonesia kini jadi sebagai produsen dan eksportir sawit terbesar dunia. Menurut studi yang kami lakukan, perbedaan pertumbuhan produksi sawit Malaysia dan Indonesia dipengaruhi tingkat ketersediaan lahan, perkembangan industri minyak sawit, hingga penggunaan lahan di kedua negara.

Lebih dari 96 persen produksi CPO Indonesia disumbang dari Sumatera sebesar 78 persen dan Kalimantan 18 persen. Sulawesi menyumbang 2-3 persen dan sisanya sumbangan dari Papua dan Jawa.

Kalah dalam hal produksi, Malaysia mencoba cara lain dalam persaingan dengan Indonesia. Di tengah merosotnya harga minyak sawit dunia, Oktober 2012  Malaysia menurunkan bea keluar CPO menjadi 8 persen. Tujuannya agar pengusaha sawit makin bergairah mengekspor hasil produksinya di pasar internasional. Tentu saja kondisi ini membuat pemerintah dan sektor swasta Tanah Air kelabakan. Penurunan bea keluar membuat produk CPO Negeri Jiran lebih murah di pasaran dunia. 

Belakangan ini, produk unggulan Indonesia itu kembali dihantam isu miring. Pemerintah mengakui ada sentimen negatif dan kampanye hitam di pasar internasional yang membuat komoditas Indonesia dijauhi konsumen dari negara lain. Kondisi ini makin memperparah kondisi sebelumnya di mana harga minyak sawit masih terpuruk. Berikut grafik perkembangan produksi CPO Indonesia dan Malaysia dari tahun 1964 - 2015


Pengembangan Agro-Industri di Indonesia

Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah meningkatkan produktivitas perusahaan dan nilai tambah produktivitasnya. Peningkatan nilai tambah dari suatu komoditas dicapai melalui proses pengolahan dari bentuk bahan mentah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi.
Industri pengolahan komoditas minyak sawit memungkinkan terciptanya mata rantai pengolahan didalam negeri. Hal ini diharapkan berdampak positif terhadap perluasan kesempatan berusaha disamping menciptakan tambahan lapangan kerja.

Agroindustri merupakan salah satu cabang industri yang punya prospek cerah dimasa mendatang. Hal ini didukung dengan adanya sumber daya alam dan sumber daya manusia serta tersedianya peluang pasar yang cukup besar baik didalam maupun diluar negeri.
Pemasaran komoditas perkebunan selama ini masih terkonsentrasi pada upaya ekspor berupa bahan mentah. Pola pemasaran seperti ini mempunyai posisi yang lemah di tengah-tengah ketatnya persaingan dalam perdagangan dunia. Posisi ini juga akan semakin sulit dengan banyaknya barang substitusi sebagai hasil kemajuan teknologi di negara maju yang diciptakan untuk mengurangi ketergantungannya terhadap negara-negara berkembang. Oleh karena itu pemerintah sudah mulai mengambil langkah-langkah kebijaksanaan untuk mengembangkan kegiatan agroindustri.

Beberapa perkembangan agroindustri yang sudah dilakukan oleh perkebunan kelapa sawit adalah coocking oil, margarine, oleo chemical, glaycerine, fatty acid dan lain-lain. Peningkatan ekspor non-migas ini secara umum mempunyai peranan yang sangat strategis disamping sebagai salah satu sumber devisa dan sumber kegiatan perekonomian dalam negeri yang cukup handal serta membuka peluang kesempatan kerja di Indonesia.

Mata rantai industri pengolahan komoditi kelapa sawit dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :
Pengembangan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit
Prospek pasar dunia untuk minyak sawit dan produknya cukup bagus, karena itu perkebunan kelapa sawit sekarang telah diperluas secara besar-besaran oleh perkebunan besar negara, perkebunan besar swasta maupun oleh masyarakat atau perkebunan rakyat, baik secara mandiri maupun bermitra dengan perusahaan perkebunan.

Program pengembangan dan pembangunan perkebunan kelapa sawit dengan pola kemitraan skala besar sangat menguntungkan bagi berbagai aspek, baik ekonomi, sosial maupun lingkungan.
Ditinjau dari aspek ekonomi, perkebunan kelapa sawit dapat mendukung industri dalam negeri berbasis produk berbahan dasar kelapa sawit. Selain itu dengan banyak terbangunnya sentra ekonomi di wilayah baru akan mendukung pembangunan ekonomi regional. Ditinjau dari aspek sosial, terjadi penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar dan memperkecil kesenjangan pendapatan petani dengan pengusaha perkebunan. Dari aspek lingkungan, adanya pengembangan dan pembangunan perkebunan kelapa sawit di lahan yang telah lama terbuka dan tidak produktif akan merehabilitasi lahan kritis dan marginal dalam skala yang luas. Selain itu, terbangunnya perkebunan yang luas akan menambah penyediaan oksigen (O²) serta sekaligus penyerap karbon (CO²). Perkebunan kelapa sawit yang luas juga dapat mendukung fungsi hidrologis, yaitu kemampuan menyerap air pada musim hujan dan melepaskannya secara bertahap pada musim kemarau.

Komoditas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah berkembang ke berbagai daerah di tanah air, dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi dan Maluku, sedangkan di Irian Jaya (Papua) belum begitu banyak investor yang berinvestasi.

Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien diantara beberapa tanaman sumber minyak nabati yang memiliki nilai ekonomi tinggi lainnya, seperti kedelai, zaitun, kelapa dan bunga matahari. Kelapa sawit dapat menghasilkan minyak paling banyak dengan rendemen mencapai 21%, kelapa sawit dapat menghasilkan minyak sebanyak 6—8 ton per hektare per tahun, sementara tanaman sumber minyak nabati yang lainnya hanya menghasilkan kurang dari 2,5 ton per hektare per tahun (berada jauh dibawah kelapa sawit).

Bagian tanaman kelapa sawit yang bernilai ekonomi tinggi adalah bagian buahnya yang tersusun dalam sebuah tandan, atau disebut TBS (Tandan Buah Segar). Buah sawit dibagian sabut (daging buah atau mesocarp) menghasilkan minyak sawit kasar atau CPO (Crude Palm Oil) sebanyak 20%—24%, sedangkan bagian inti sawit menghasilkan minyak inti sawit atau PKO (Palm Kernel Oil)  sebanyak 3%—4%.

Masa depan agrobisnis kelapa sawit menunjukkan perannya yang signifikan bagi ekonomi Indonesia. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir cenderung menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2001 lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia tercatat 4,71 juta hektare, kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2002 menjadi 5,07 juta hektare atau meningkat sekitar 7,50 persen. Pada tahun 2003 meningkat lagi sekitar 4,27 persen menjadi seluas 5,28 juta hektare, kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2004 menjadi 5,72juta hektare. Pada tahun 2005 luas areal perkebunan kelapa sawit meningkat sebesar 3,20 persen dibanding dengan tahun sebelumnya atau menjadi 5,95 juta hektare, dan hingga akhir tahun 2015 luas perkebunan sudah mencapai 11,44 juta hektar, dari 3 wilayah berdasarkan status pemanfaatan yakni kebun rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta.



Benih Londsum

Salah satu perusahaan swasta nasional penghasil bibit sawit unggul adalah PT PP London Sumatra Indonesia, Tbk dengan lembaga riset yang dimiliki Sumatra Biosience di Bah Lias. Perdaganangan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dan Samarinda Seed Germination Unit di Samarinda, Kalimantan Timur, penghasil bibit sawit Lonsum yang dapat diandalkan di Borneo.

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) benih bibit sawit Lonsum dikenal memiliki rendemen yang tinggi dapat mencapai dua puluh tujuh persen. Daya tahan terhadap serangan hama penyakit termasuk baik, bibit Lonsum tidak mudah terserang hama penyakit.

Benih bibit kelapa sawit Lonsum, milik potensi produksi tinggi, tandan buah segar (TBS) di lingkungan yang sesuai dapat mencapai lebih dari 30 ton TBS / ha / tahun dengan hasil minyak dan kernel mencapai 26% dan 6%. Pohon kelapa sawit sudah bisa dipanen setelah tanam berumur 2,5 tahun. Pertumbuhan vegetatif sedang memungkinkan masa produktif lebih lama dan bisa bertahan hingga 25 tahun sebelum penanaman kembali (replanting). Menurut catatan PT Lonnsum secara komersial hasil yang diperoleh tanaman bibit sawit Lonsum dalam sepuluh tahun awal termasuk tanaman yang paling tinggi menghasilkan buah sawit dalam satuan tonase per hektar.

Bibit sawit Lonsume memiliki kontaminasi dura sangat rendah <1%, benih dihasilkan dengan teknik pemuliaan silang dengan pengawasan ketat. Penyakit mahkota rendah (<2%). Teruji dengan kinerja yang baik dalam banyak skala, saat uji coba maupun tanaman komersial di areal perkebunan besar. Semua progen memiliki catatan sejarah yang lengkap, memudahkan menelusuri kembali sumber pohon dan asal genetik.


Benih Dami Mas

Produsen benih kelapa sawit lainnya yakni  PT Dami Mas Sejahtera(Smart grup) menyumbang 3 juta butir benih sawit pada produksi nasional di semester I 2017. Terhitung sejak Januari hingga Juni 2017, produksi benih sawit secara nasional sebesar 26, 5 juta butir.  Benih Dami Mas DxP diproduksi oleh PT Dami mas Sejahtera atau Dami Mas Seed Estate. PT Dami Mas Sejahtera didirikan pada tahun 1996 melalui usaha patungan antara PT Ivo Mas Tunggal (Indonesia) dan New Britain Palm Oil Ltd (Papua Nugini). Tujuan dari usaha patungan ini adalah untuk memproduksi kelapa sawit secara komersial. New Britain Palm Oil Ltd menyediakan populasi pengembangbiakan kelapa sawit yang sangat dibutuhkan dan keahlian teknis dalam produksi benih DxP komersial sementara PT Ivo Mas Tunggal menyediakan sumber daya keuangan, fisik dan manusia dalam usaha patungan yang paling sukses ini. 

PT Dami Mas Sejahtera menjadi produsen benih DxP bersertifikat pada tahun 2005 setelah memenuhi semua persyaratan teknis dan sertifikasi dari Departemen Pertanian. Pada tahun 2010, PT Ivo Mas Tunggal mengakuisisi kepemilikan PT Dami Mas Sejahtera setelah melalui pembelian saham yang dipegang oleh New Britain Palm Oil Ltd.  Saat ini PT Dami Mas Sejahtera adalah salah satu pemasok benih DxP teratas di Indonesia dengan potensi produksi tahunan sebesar 24 M benih berkecambah. Keberhasilan PT Dami Mas Sejahtera dapat dikaitkan dengan cadangan R & D yang kuat oleh Lembaga Penelitian SMART serta Divisi Produksi dan Bioteknologi Tanaman, dan juga komitmennya untuk mencapai standar kualitas tertinggi melalui penerapan prosedur pengendalian kualitas yang ketat di DxP-nya. 

Proses produksi benih Dami Mas DxP terkenal dengan hasil panennya yang tinggi serta rasio ekstraksi minyak yang tinggi - dua ciri paling penting yang banyak dicari oleh para petani kelapa sawit. Dami Mas DxP dikembangkan dari populasi pengembangbiakan kelapa sawit yang maju dan terbukti dengan baik: Dami Mas deli dura sebagai induk "D" dan Dami Mas Avros sebagai induk "P". Berikut Karakteristik benih Dami mas


Benih PPKS


PPKS telah merilis varietas kelapa sawit sejak tahun 1984 - 1985 sebanyak 8 varietas (DxP Dolok Sinumbah, DxP Bah Jambi, DxP Marihat, DxP La Me, DxP AVROS, DxP Yangambi, DxP Sungai Pancur 1(Dumpy) dan DxP Sungai Pancur 2), tahun 2002 sebanyak 2 varietas (DxP Simalungun dan DxP Langkat) dan yang terbaru tahun 2007 sebanyak 2 varietas (DxP PPKS 540 dan DxP PPKS 718). Varietas yang paling banyak diminta umumnya DxP Simalungun dan DxP Langkat, serta beberapa DxP lainnya, seperti Dumpy dan Yangambi. Panen TBS dapat dilakukan mulai umur 28 - 30 bulan setelah tanam di lapang, dan umur ekonomis sampai 25 tahun.


PPKS telah memproduksi bahan tanam kelapa sawit unggul yang berstandar internasional sesuai dengan ‘Sistem Manajemen Mutu’ (ISO 9001:2008) sehingga terjamin mutunya. Bahan tanam unggul berupa kecambah, bibit klon serta bibit komersial kelapa sawit siap tanam yang telah melalui seleksi dan pengujian dari program pemuliaan tanaman dalam waktu puluhan tahun secara berkesinambungan. Bahan tanam kelapa sawit unggul merupakan modal utama untuk mendapatkan produktivitas tinggi. Dengan bahan tanam unggul maka produksi TBS dan minyak dijamin jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan bibit dari benih asalan berikut benih produksi dari PPKS Marihat, berikut beberapa produksi benih dari PPKS marihat yang telah dirilis dan masih di pasarkan sebagai berikut

Varietas Dumpy atau dari persilangan Dy x P sungai pancur 1 dan merupakan varietas kelapa sawit dengan keunggulan spesifik laju pertumbuhan meninggi yang lambat, sekita 40 - 55 cm/thn  dan rerata bobot tandan yang tinggi. Dengan pertumbuhan yang lambat varietas dumpy diperkirakan mampu berproduksi hingga umur 30 tahun dan ini lebih lama dari varietas lain. Selain pertumbuhan yang lambat Dumpy juga mempunyai keragaan batang yang relatif besar, sehingga cocok di tanam di lahan pasang surut untuk mengurangi potensi rebah dan doyong. Varietas Dumpy ini sesungguhnya adalah hasil persilangan antara Dura Dumpy dan Psifera turunan SP540. Dura Dumpy merupakan mutan dari Dura Deli yang diitoduksi dari Elmina, Malaysia dan hanya dimiliki oleh Pusat penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Varietas Dy x P SP1 dirilis tahun 1984 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 384/Kpts/TP.204/4/1984, berikut karakteristik varietas Dumpy pada tabel dibawah ini  

Varietas DxP PPKS 540, varietas ini merupakan varietas yang termasuk kelompuk grup turunan SP 540 yang dihasilkan dari persilangan antara Dura Deli PA 131 D self/TI 221 D x GB 30 D dengan tetua psifera keturunan SP540T murni. Karakter unggulan dari varietas ini adalah Quick Starter dan presentase mesokarp perbuah nya sangat tinggi (88 - 90%). Potensi produksi CPO dari varietas ini mencapai 8 - 9 to/ha/tahun  dan dengan daya adapsi yang luas, varietas ini dapat di tanam di berbagai tipe lahan mulai dari areal datar hingga bergelombang. Varietas ini dirilis pada tahun 2007 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 37/Kpts/Sr.12/07/2007

Varietas D x P Simalungun, varietas ini juga merupakan kelompok grup turunan SP 540 yang merupakan perbaikan dan rekombinasi dari tetua tetua terbaik pada program pemuliaan reciprocal recurrent selection (RRS) siklus pertama. Sebagai material induk di gunakan dura deli terbaik, sedangkan untuk tetua bapak digunakan psifera keturunan SP 540 murni. Varietas D x P simalungun dirilis pada 14 Februari 2003 dan berdasarkan surat Keputusan Menteri Pertanian No 137/Kpts/TP.240/2/2003

Varietas D x P Avros, varietas ini masih masuk dlam kelompok grup turunan SP 540 dimana DxP Avros merupakan varietas hasil seleksi awal pada program pemuliaan di PPKS. Varietas ini dirilis pada 25 April 1985 dan berdasarkan surat keputusan Menteri Pertanian No 315/Kpts/TP.240/4/1985. Varietas DxP Avros menjadi material bahan tanaman yang digunakan dalam pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia, dan varietas ini di peroleh dari hasil perislangan Dura Deli dengan Psifera turunan SP540T

DxP 540 NG ini masih termasuk dalam kelompok varietas turunan SP 540, dan saat ini PPKS Marihat telah memasarkan benih DXP 540 NG yang menunjukan sifat ketahanan terhadap Ganoderma, frasa NG pada  DXP NG menyebutkan New Generation For Ganoderma, dan pada usia 8 tahun mampu memproduksi 35 ton pertahun pada klas lahan S1, Selain memiliki sifat moderat tahan terhadap genoderma, varietas D x P 540 NG juga memiliki karakter produksi TBS dan produksi minyak yang sangat baik, pada umur 6 tahu varietas ini dapat menghasilkan 35 ton TBS/Ha/Thn dengan tingkat rendemen minyak 26,5 - 27,4 %. Tingkat rendemen yang tinggi disebabkan kandungan mesokarp/buah yang tinggi yakni 85,5 - 87,5 %

DxP PPKS 239  merupakan varietas yang termasuk kelompuk grup turunan dari Yangambi, dan merupakan verietas yang dirilis pada tanggal 17 Mei 2010 sesuai dengan SK Menteri Pertanian No 1883/Kpts/SR.120/5/2010. Varietas ini merupakan hasil persilangan khusus antara dura turunan DA128D x LM270D dengan psifera turunan LM237T self, dan memiliki keunggulan dalam produksi CPO dan PKO (High CPO, High PKO). DXP PPKS239 mampu menghasilkan TBS yang tinggi, baik pada usia muda maupun dewasa. Didukung oleh karakter rendemen minyak yang tinggi, maka varietas ini mampu menghasilkan 8,4 ton CPO/thn/ha, selain itu varietas ini juga dapat menghasilkan PKO 0,7 - 0,9 ton/ha/thn. Dengan mempertimbangkan tingkat produksi CPO dan PKO yang tinggi, varietas ini juga dapat menjadi alternatif bagi perkebunan yang ingin mendapatkan total economic value yang tinggi dari kedua jenis minyak yang di dapat.

DxP PPKS 718, satu lagi varietas yang dihasilkan oleh PPKS yang masuk dalam grup turunan dari Yangambi, yang memiliki bobot tandan yang besar (big bunc) 10% lebih tinggi dari rerata bobot TBS pada umumnya. Rerata bobot TBS varietas ini umumnya pada usia 6 - 9 tahun sebesar 22,8 Kg/Tandan, dan potensi TBS nya sebesar 32 ton/ha/thn, varietas ini merupakan hasil persilangan spesifik antara Dura DA115D self x LM718T self. Varietas ini di rilis pada tahun 2007 sesuai dengan surat keputusan Menteri Pertanian No 372/Kpts/SR.120/7/2007

DxP Yangambi termasuk dalam kelompok grup turunan dari Yangambi yang merupakan generasi pertama dari beberapa varietas kelapa sawit yang dihasilkan PPKS pada periode 1980. Varietas xP Yangambi juga memiliki potensi produksi CPO dan PKO yang tinggi (8,8 ton/ha/thn). Petani umumnya menyukai DxP yangambi karena rerata bobot tandan yang tinggi. Vareitas ini pertama kali di lepas ke pasaran pada tahun 1985 sesuai dengan surat keputusan Menteri Pertanian No 316/Kpts/TP.240/4/1985

DxP Langkat, merupakan varietas pertama yang dirakit PPKS dari hasil kombinasi tetua tetua terbaik dari beberapa tetua tetua terbaik psifera. Tetua psifera hasil rekombinasi antara SP540, Yangambi dan Marihat yang disilangkan dengan Dura Deli terbaik dan menghasilkan varietas dengan karakter unggul dimana mempunyai pelepah yang relatif pendek (compact palm) dan potensi CPO hingga 8,3 ton.ha/thn. selain itu varietas ini cocok ditanam di areal bergelombang dan berbukit, kelebihan lainnya adalah varietas ini sudah berbuah pada usia 22 bulan setelah tanam. Varietas DxP langkat di rilis pada tahun 2003 sesuai surat keputusan Menteri Pertanian No 136/Kpts/TP.240/2/2003

Berikut Karakteristik Varietas Kelapa Sawit produksi PPKS pada tebel berikut :

Berikut Potensi Produksi Genetik dari berbagai varietas dan kelompok grup kelapa sawit produksi PPKS yang telah di pasarkan sebagai berikut :




Penghasil Benih Unggul


Pada umumnya ada 3 (tiga) jenis bibit kelapa sawit yang perlu diketahui, pelaku industri tanaman sawit, petani maupun pemilik perkebunan sawit. Dikategorikan berdasarkan sumber yang didapat, mulai dari bibit sawit unggul yang diproduksi institusi terpercaya. Bibit kelapa sawit asal kultur jaringan dan bibit sawit asal tanaman liar dengan varian yang berbeda-beda. Tumbuh disembarang tempat, sering tanpa sengaja dari sumber yang sulit ditelusuri.

Sukses tidaknya industri tanaman sawit diawali dengan pemilihan sumber bibit yang akan disemai, tentu selain memenuhi syarat topologi ideal tanaman berakar serabut ini dapat tumbuh dengan baik. Bakalan bibit yang dipilih, akan menentukan tingkat pertumbuhan yang baik hingga produksi tandan sawit seperti yang diharapkan, selain masalah teknikal menyiasati bentuk lahan yang berbeda.
BIBIT SAWIT UNGGUL - KULTUR JARINGAN - SAWIT TANAMAN LIAR
Saat ini ada 15 perusahaan penghasil bibit kelapa sawit unggul di Indonesia dan bersertifikat, didominasi oleh Sumatera Utara sebagai lumbung sawit dan CPO nasional, oleh BUMN dan korporasi swasta, yang mampu membuat Indonesia sebagai penghasil utama CPO dunia, mengalahkan Malaysia dan negara lainnya. Bibit sawit disistribusikan ke penjuru negeri, Pulau Sumatera, Jawa, Riau Kepulauan, Kalimatan, Sulawesi hingga tanah Papua.

Penghasil bibit sawit dunggul dimulai dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Sumatera Utara, Bibit Sawit Socfindo produksi PT Socfindo Indonesia Medan, PT London Sumatera (Lonsum) Medan, PT Bina Sawit Makmur (Sampoerna Agro) di Sumatera Selatan dan PT Dami Mas (Sinar Mas Agro Resources and Technology) Riau.

Kemudian PT Tunggal Yunus Estate (Asian Agri Group) Riau, PT Tania Selatan (Wilmar International) Sumatera Selatan, PT Bakti Tani Nusantara Batam, PT Sarana Inti Pratama (Salim Grup) Riau dan PT Sasaran Eksan Mekarsari (Mekarsari) Bogor.

Selanjutnya, PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi Jakarta, PT ASD Bakrie Oil Palm Seed di Kisaran, Sumatera Utara, PT Palma Inti Lestari Riau, PT Perkebunan Nusantara, PTPN IV Medan dan PT Aneka Sawit Lestari Riau.

Sumber : http://www.elaeis.net/bibit-sawit-marihat/