Minggu, 04 Februari 2018

Unsur Hara


Tanaman, seperti halnya makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi yang cukup memadai dan seimbang agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.  Nutris bagi tanaman sering juga disebut unsur hara dan merupakan sumber nutrisi yang dibutuhkan sebuah tanaman, baik unsur hara dari alam (organik) muapun unsur hara yang sengaja ditambahkan. Demi kelangsungan pertumbuhannya, maka tanaman pun tetap memerlukan nutrisi seperti mahkluk hidup yang lainnya.

Unsur hara ini sangat penting karena juga menjadi faktor penentu untuk kualitas tanaman, sepeti pertumbuhan, perkembangan maupun produktifitasnya nanti. Sebenarnya untuk kebutuhan unsur hara tanaman ini sudah disediakan oleh alam, akan tetapi jumlahnya yang terbatas membuat seseorang harus menambahkan agar tanaman bisa tumbuh optimal.

Untuk menunjang pertumbuhannya, sedikitnya ada sekitar 16 jenis unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, tiga diantaranya tersedia di udara dan juga air, yakni oksigen (02), Hidrogen (H) dan juga Karbon (C). secara garis besar, unsur hara ini dibedakan menjadi 2 jenis, yakni Unsur Hara Makro dan juga Unsur Hara Mikro

Pada dasarnya, saat kita hendak melakukan kegiatan budidaya tanaman, tanaman apapun jenisnya, sangat diperlukan pengetahuan mengenai apa saja jenis-jenis nutrisi atau unsur-unsur hara apa saja yang dibutuhkan tanaman yang kita budidayakan.

Pengetahuan ini setidaknya dibutuhkan pada saat pemberian pupuk agar tepat dan seimbang, karena baik berlebih unsur hara atau kekurangan unsur hara dapat menyebabkan pertumbuhan yang tidak optimal.  Pengetahuan ini pun perlu pada saat mengamati proses pertumbuhan tanaman.  Apabila pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan yang kita harapkan, kita dapat melakukan evaluasi dan tindakan yang cukup tepat sebelum semuanya terlambat.

Secara garis besar, tanaman atau tumbuhan memerlukan 2 (dua) jenis unsur hara untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.  Dua jenis unsur hara tersebut disebut Unsur Hara Makro dan Unsur Hara Mikro.

KEKURANGAN UNSUR HARA PADA TANAMAN
Defisiensi atau kahat unsur hara adalah kekurangan meterial (bahan) yang berupa makanan bagi tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda tergantung dari jenis tanamannya, ada jenis tanaman yang rakus makanan dan adapula yang biasa saja. Jika unsur hara dalam tanah tidak tersedia maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan produksinya menurun. Kita sebagai petani tidak mungkin mengecek kandungan hara tanah setiap saat untuk mengetahui ketersediaan unsur hara tersebut, salah satu upayanya adalah dengan mengetahui gejala defisiensi unsur hara pada tanaman.

Pada bahasan lanjutan akan dibahas kekurangan unsur hara pada tanaman kelapa sawit.

Sabtu, 03 Februari 2018

Pelepah Sawit Sebagai pakan Ternak Sapi


Mengembangkan ternak sapi ini,  tidaklah terlalu sulit untuk di integrasikan dengan perkebunan kelapa sawit, kalau saja semua dilakukan dengan serius. Terbukti dengan mengganti pakan sapi dari rerumputan dengan pelepah kelapa sawit membuat pertumbuhan sapi menjadi berkembang, sekarang bagaimana kita memanfaatkan kekayaan alam yang ada untuk kebutuhan pakan ternak sapi yang lebih ekonomis karena tidak harus mengimpor rumput atau memelihara sebelumnya hingga panen. Karena pelepah dapat terus diperoleh saat panen buah kelapa sawit setiap harinya.

 Pakan memiliki peranan penting bagi perkembangan ternak ruminansia baik untuk memenuhi kebutuhan pokok, pertumbuhan, maupun produksi (susu, anak dan daging) atau sebagai sumber tenaga, maka pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha pemeliharaan/budidaya ternak. Keberhasilan maupun kegagalan usaha ternak banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan. Disamping pengaruhnya yang besar terhadap perkembangan ternak, faktor pakan juga merupakan biaya produksi yang terbesar dalam usaha peternakan. Dalam hal ini, biaya pakan dapat mencapai ± 70 % dari seluruh biaya produksi.

"Pelepah diperoleh dari setiap memanen buah sawit. Biasanya pelepah yang bagus itu didapat dari usia tanaman kelapa sawit 12 tahun karena proteinnya masih lengkap," ucapnya, pelepah sawit yang dijadikan pakan ternak sebelumnya digiling ke dalam mesin penggiling, pelepah sawit yang panjangnya sekitar 3 - 4 meter berubah menjadi serpihan-serpihan kecil hampir seperti bubuk keluar dari lubang pipih di bagian lainnya dari mesin tersebut. Pelepah sawit yang akhirnya menjadi serpihan tersebut nantinya akan dipermentasikan selama satu hari hingga berubah bau seperti tape. Cacahan pelepah segar (300 - 400 kg) diperciki secara merata dengan larutan urea (3 - 4 kg urea/100 liter air). Cacahan dimasukkan ke dalam drum, dipadatkan dan ditutup rapat untuk menghasilkan kondisi tanpa udara, dan selanjutnya dibiarkan selama 2 - 3 minggu dan siap diberikan kepada ternak sebagai pakan dasar.

Untuk kebutuhan pakan yang dibutuhkan perekor sapi nya mencapai 18 kg/ekor setiap harinya tergantung berat badan sapi. Hal itu dilakukan agar aroma yang keluar nantinya bisa menimbulkan nafsu makan sapi. Pelepah segar kelapa sawit sebagai pengganti hijauan pakan ternak dapat diberikan sebanyak 50 - 60 % dan untuk meningkatkan konsumsi dapat dicampur dengan bahan pakan lain seperti gula tetes/molases, dedak dll.

Dengan memanfaatkan pelepah kelapa sawit sebagai pakan ternak ini merupakan suatu terobosan yang dapat dilakukan untuk medayagunakan limbah atau hasil sampingan pertanian yang tidak terbuang sia-sia sehingga mempunyai nilai ekonomi dan bisa menambah pendapatan serta meningkatkan kesejahteraan keluarganya sekaligus menambah semangat para petani/peternak.

"Disini sapi tidak dibiarkan lepas mencari makannya. Karena kalau sapi dibiarkan lepas, banyak yang jadi korban, antara lain, kalau rumput dibawa habis, ia akan makan daun pelepah yang di atas, selain itu, tanah yang diinjaknya berulang kali akan menjadi padat, ini tidak menguntungkan karena buah sawit akan maksimal kalau pelepahnya cukup dan kepadatan tanahnya tidak terlalu rapat," jelas Ilyas.

Untuk memenuhi kebutuhan banyaknya pelepah sawit, setiap hari beberapa orang anggotanya mengambil pelepah sawit dari kebun meggunakan truk kemudian menempatkannya di dalam tempat pengolahan pakan. Jadi tehnis yang harus dilakukan adalah mengambil pelepah kelapa sawit yang telah di pruning pada saat panen dari setiap batang pohon sawit, dengan luasan kebun yang luas pasokan kebutuhan terhadap pelepah tidak menjadi masalah.

Perlu di ketahui bahwa sapi mempunyai kemampuan mengkonsumsi pakan berdasarkan bobot, semakin berat bobot maka semakin banyak kemampuan makannya, berikut perkiraan kemampuan sapi dalam mengkonsumsi pakan :

Bobot        Kemampuan Mengonsumsi Pakan
( kg ) ( % dari bobot badan )
100 – 150                    3,5
150 – 200                    4,0
200 – 250                    3,5
250 – 300                    3,0
300 – 350                    2,8
350 – 400                    2,6
400 – 450                    2,4
450 – 500                    2,0

Perkiraan diatas berdasarkan pakan dengan kandungan kering. Contoh perhitungan bila kita mempunyai sapi bakalan yang siap digemukkan berbobot 400 kg maka konsumsi bahan keringnya adalah 400 x 2,4 % = 9,6 kg, dari kebutuhan ini kita bagi menjadi dua bagian yaitu 40 % pakan tambahan dan 60 % jerami atau rumput gajah, perbandingan ini sangat pas untuk penggemukan secara intensif. Jadi untuk jerami di butuhkan 60 % x 9,6 = 5, 76 kg sisanya yaitu 3,84 kg berupa pakan tambahan seperti dedak, tepung jagung, gamblong atau yang lain tergantung yang mana yang mudah didapatkan didaerah masing-masing.

Nilai Kandungan Nutrisi Limbah Sawit:
No Limbah Sawit (%) Berat Kasar (%) Protein Kasar (%) Sarat Kasar %
1 Daun Tanpa Lidi 46,18 14,12 21,52
2 Pelepah 26,07 3,07 50,94
3 Lumpur Sawit 24,08 14,58 35,8
4 Bungkil 91,83 16,33 36,68
5 Serat Perasan 93,11 6,2 48,10
6 Tandan Kosong 92,10 3,27 47,93


Analisa Produktivitas Benih Socfindo


Socfindo adalah salah satu perusahaan yang di tunjuk oleh pemerintah untuk melaksanakan penyediaan benih unggul kelapa sawit. Benih unggul Socfindo adalah hasil persilangan benih unggul DxP, dan kebun percobaan Socfindo berada di dua tempat yakni di kebun percobaan Aek Kwasan, Aek Loba Timur (Kabupaten Asahan) dan Bangun Bandar (Kabupaten Serdang Bedagai) Provinsi Sumatera Utara, Indonesia dan sebagian sumber benih juga berasal dari kebun percobaan yang ada di Benua Afrika seperti dari La'me, La Dibamba dan Pobe.

Sejak Agustus 2013, Socfindo telah merilis 1 varietas unggulan terbaru. Sehingga saat ini, selain dari 2 varietas yang sudah ada Socfindo telah resmi memasarkan 3 jenis varietas DxP Socfindo yang memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing.
DxP Socfindo MT Gano
DxP Unggul Socfindo Lame
DxP Unggul Socfindo Yangambi

Secara umum, ketiga varietas bibit unggul tersebut didistribusikan dalam 2 bentuk, benih kecambah (seeds) dan bibit polybag prenursery. Akan tetapi khusus untuk varietas DxP Socfindo MT Gano hanya dipasarkan dalam bentuk kecambah. Masing-masing varietas unggul DxP Socfindo memiliki keunggulan yang khas.
Sebagai gambaran dari hasil riset terhadap produksi benih Sochfindo yang di lakukan oleh PT Socfindo dengan berbagai kelas lahan, dan  Benih dan bibit kelapa sawit yang diproduksi oleh PT. Socfin Indonesia memiliki kualitas yang teruji dan terbukti, selalu mengandalkan kualitas, serta tidak kalah bersaing dengan produk lain yang ada di pasar. Merupakan bibit tenera dari hasil persilangan Dura x Pisifera terbaik yang diperoleh dari berbagai famili yang sudah teruji keunggulannya.

Dalam perjalanannya kami selaku konsultan perkebunan kelapa sawit telah melakukan uji terhadap produktivitas benih socfindo pada  2 perusahaan yang berbeda yakni satu perusahaan di Kalimantan Timur, dan satu perusahaan di Sumatera Utara, hal ini kami lakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh produksi dengan menggunakan benih socfindo pada dua kelas lahan yang sama yakni KKL 3 tetapi pada wilayah yang berbeda, dalam pengambilan sampel ini tidak ada kami bahas analisa keadaan dan kondisi kebun yang di lakukan sampel.(bahasan tentang keadaan "mengapa" ada dalam laporan yang tidak bisa kami publish disini)

Dari salah satu perusahaan yang berada di Kalimantan Timur  "PT Kelapa Sawit" (nama di samarkan) dengan luas HGU 7.200 ha menggunakan benih asal Socfindo dengan kelas kesesuaian lahan S3 (KKL S3), berikut tabel produksi PT Kelapa Sawit pada tahun tanam 2009 (TM 5) dan tahun 2012 (TM 2) hingga bulan Nopember 2017



Dari tabel terlihat (angka berwarna merah adalah ketidak mampuan menyamakan produksi yang dicanangkan oleh sochfindo) bahwa produksi benih Sochfindo cukup baik tumbuh dan berproduksi di areal PT Kelapa Sawit, ini terlihat  pada tahun tanam 2009 (TM 5) rata rata produksi hingga Nopember 2017  adalah 18.83 ton per hektar sementara pada hasil riset Sochfindo untuk TM 5 produksi yang harus di capai adalah 21 ton/ha/thn atau terjadi defisit sebesar 2,17 ton, dan tahun tanam 2012 (TM 2) produksi sebesar 12.18 ton per hektar per tahun dan berdasarkan riset Sochfindo untuk TM 2 produksi yang harus di capai adalah 12 ton/ha/thn untuk TM 2 terjadi surplus dari seharusnya yakni sebesar 0,18 ton.

Sementara pada produksi TBS dari jenis bibit yang sama yaitu Socofindo dengan kelas kesesuaian lahan S3, berada di propinsi Sumatera Utara, perusahaan yang berada di Propinsi Sumatera Utara "PT Palm Oil" (nama di samarkan) dengan klas kesesuaian lahan S3, dengan luas total HGU 9.826,79 hektar terbagi dalam 4 tahun tanam yaitu tahun tanam 2002 seluas 2.526,56, tahun tanam 2003 seluas 2479,43, tahun tanam 2004 seluas 2.446,17 hektar, serta tahun tanam 2005 seluas 2.374,63 hektar, data kami peroleh adalah data tahun tanam 2005 seluas 2.374,63 hektar, disampaikan pada tabel berikut :




Banyak faktor yang mendukung untuk tercapainya produktivitas yang tinggi dari hasil produksi yang sesuai dengan apa yang telah di lakukan penelitian dari  perusahaan penyedia benih, antara lain
1.    Iklim dan Curah Hujan
2.    Penggunaan Pupuk
3.    Kelas Kesesuaian Lahan
4.    Penggunaan Tenaga Kerja
5.    Kematangan Panen yang berkelanjutan
6.    Perawatan Tanam Infrastruktur Tanaman
7.    Managemen Pruning

Jadi Hasil survey dari kedua perusahaan diatas tidak bisa di jadikan tolok ukur akurasi keberhasilan dan efektivitas dari benih sochfindo, karena faktor yang mengakibatkan keberhasilan atau ketidak mampuan mengejar produktivitas yang di canangkan oleh penyedia benih tidak di lakukan seperti 7 faktor diatas.

Jumat, 02 Februari 2018

Perdagangan Minyak nabati Dunia


Minyak nabati merupakan bahan pangan yang diperlukan seluruh masyarakat dunia. Empat sumber utama minyak nabati dunia adalah minyak sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak rapeseed. Diproyeksikan secara moderat, konsumsi per kapita minyak nabati dunia menuju tahun 2050 akan mencapai 25 Kg, sehingga diperlukan ketersediaan minyak nabati total sebesar 230 juta ton atau perlu tambahan 60 juta ton lagi dari produksi tahun 2015.

Dalam perdagangan minyak nabati di pasar internasional, saat ini terdapat lima jenis produksi minyak nabati yang masih mendominasi yaitu minyak kelapa sawit, minyak kedelai, Canola Oil, Rapeseed Oil, dan Sunflower Oil. Peranan ke lima jenis minyak nabati tersebut dalam beberapa tahun ini terlihat terus menguat, khususnya untuk minyak kedelai dan minyak kelapa sawit. Pada kurun waktu 10 tahun terakhir antara tahun 2005 sampai 2015 peranan lima jenis minyak nabati tersebut terhadap total produksi minyak sawit dunia sebesar 84,59 persen. 

Jika 60 juta ton minyak nabati tersebut dipenuhi dari minyak kedelai, tidak mungkin dapat dipenuhi dari sekitar 115 juta hektar kebun kedelai dunia saat ini. karena produktivitas minyak yang rendah dan sulit meningkat karena tanamannya relatif kecil. Karena itu diperlukan tambahan kebun kedelai dunia seluas 120 juta hektar lagi. Jika tambahan 60 juta ton kebutuhan minyak nabati dunia tersebut dipenuhi dari minyak sawit, cukup menaikkan produktivitas dari 20 juta hektar kebun sawit dunia saat ini. Dari 4 ton menjadi 7 ton minyak per hektar menuju tahun 2050

Tergusurnya minyak kedelai dari penguasaan pasar dunia sejak tahun 2006 oleh minyak kelapa sawit, ini terjadi bukan karena menurunnya produksi kedelai dunia atau luasan lahan pertanian yang menyusut, tetapi malah sebaliknya, ini dibuktikan dengan pertumbuhan luas lahan kebun kedelai pada tahun 1965 hanya seluas 25,8 juta hektar dan meningkat tajam pada tahun 2016 menjadi seluas123 juta hektar, sementara pertumbuhan lahan perkebunan kelapa sawit naik dari 3,6 juta hektar menjadi  20,2 juta hektar, tetapi hal yang paling mendasar tergerusnya ke digdayaan minyak kedelai di pasar dunia karena produktivitas minyak sawit 8 - 10 kali lipat dari produktivitas minyak kedelai

Kontribusinya yang paling besar diraih oleh minyak kelapa sawit (CPO) sebesar 28,15 persen kemudian minyak kedelai sebesar 23,82 persen dan disusul oleh Canola Oil dan Rapeseed olie masing masing 12,96 persen dan 12,38 persen, sementara minyak bunga matahari berkontribusi sebesar 7,28 persen. 

Peranan minyak kedelai terlihat paling tinggi dan tetap kuat terhadap minyak kelapa sawit, bahkan ada kecenderungan meningkat. Pada tahun 2010 misalnya dimana produksi CPO berada pada 49,14 juta ton, dan produksi minyak kedelai 41,40 juta ton hingga tahun 2015, untuk produksi CPO sebesar 61,68 juta ton, dan produksi minyak kedelai juga cukup tinggi mencapai 52,1 juta ton.

Minyak nabati lainnya yang memiliki kontribusi cukup besar adalah minyak kacang tanah, minyak kapas, minyak kelapa, winyak wijen (sesame oil), minyak inti kelapa sawit dan lainnya.  Minyak kelapa yang begitu populer di Indonesia ternyata masih relatif kecil produksinya demikian juga kontribusinyaterhadap total produksi minyak nabati dunia. Sebagai indikasi kontribusi produksi masing-masing jenis minyak nabati tersebut terhadap produksi dunia, secara singkat dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

VEGETABLE  OIL 2010 2011 2012 2013 2014 2015
PALM OIL 49.140 52.560 56.400 59.370 61.400 61.680
SOY OIL 41.400 42.810 43.080 45.120 49.040 52.100
CANOLA OIL 23.040 24.470 25.320 26.920 27.720 27.070
RAPESEED 22.842 23.131 24.234 24.688 24.765 24.765
SUNFLOWER 12.210 14.370 12.910 15.580 14.970 15.130
PKO 5.843 6.234 6.717 7.129 7.375 7.331
GROUNDNUT 5.616 5.409 5.298 5.177 5.235 5.346
COTTON SEED  4.848 5.187 5.433 5.128 5.203 5.321
COPRA 3.857 3.181 3.319 3.225 3.332 3.298
OLIVE OIL 3.075 3.321 2.401 3.252 2.444 2.988
CORN OIL 2.288 2.359 2.685 2.856 2.970 3.105
SESAME OIL 1.089 1.121 1.145 1.107 1.078 1.120
LINSEED OIL 548 550 585 565 567 574

Dari tabel diatas dapat diketahu bahwa peranan minyak kelapa sawit atau CPO mempunyai kontribusi terbesar dalam mensuplay minyak nabati untuk konsumsi dunia, dan disusul oleh minyak kedelai atau Soy Oil, dan Sanola Oil, Rapeseed Oil serta Sun Flower Oil. (EP)


Peluang Bisnis Industri CPO di Indonesia


Perkembangan pesat perkebunan kelapa sawit dimulai pada akhir tahun 1980an, ketika perkebunan besar swasta (PBS) mulai masuk ke sektor perkebunan dan pengolahan minyak kelapa sawit dalam jumlah besar. Sebelumnya perkebunan kelapa sawit didominasi oleh perkebunan milik negara (PBN).

Sejalan dengan harga Crude Palm Oil yang terus meningkat maka selain perkebunan swasta besar, maka petani kecil mulai menanam kelapa sawit. Semula kebun sawit milik rakyat dibangun dalam skema inti plasma dengan perkebunan besar baik swasta maupun milik negara sebagai inti, namun kemudian perkebunan rakyat (PR) semakin berkembang diluar skema inti plasma.

Saat ini Perkebunan Besar Swasta mendominasi luas areal perkebunan sawit di Indonesia. Pada tahun 2015 menurut kajian Global Mapindo dari total areal perkebunan kelapa sawit nasional seluas sebesar 51,86 persen diusahakan oleh perkebunan besar swasta (PBS), dan 41,42 persen diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR) dan selebihnya  sebesar 6,72 persen  adalah milik Perkebunan Negara (PBN)

Hingga tahun 2015 dari total areal tanam, tersebut untuk perkebunan rakyat pada tanaman menghasilkan sudah mencapai 71,95 persen dari total areal tanamnya, dan PBN 78,04 persen luas areal TM nya dibandingkan areal konsesinya, sementara untuk perkebunan swasta besar, sudah mencapai 4,58 juta hektar, dan dari luas areal tadi sudah mencapai 77,25 persen adalah tanaman yang sudah menghasilkan dan sepanjang 15 tahun terakhir pada periode tahun 2000 hingga tahun 2015 pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit di dominasi oleh perkebunan besar swasta dengan tingkat pertumbuhan cukup baik  dan pertumbuhan perkebunan Rakyat hanya cukup rendah, sementara perkebunan negara pertumbuhannya hampir sama denganperkebunan swasta nasional.

Rata rata produksi TBS selama 5 tahun terakhir di dominasi oleh perkebunan Swasta dengan tingkat produksi 53,27 persen dari total produksi TBS nasional, dan perkebunan rakyat menghasilkan 39,16 persen, serta perkebunan negara hanya 7,57 persen dari produksi TBS rata rata produksi TBS nasional, begitu juga untuk produksi CPO nya masih di dominasi produksi wilayah pulau sumatera dengan menyumbang produksi sebesar 72,19 persen dari produksi TBS nasional

Dalam Studi ini dibahas dalam 9 bab yang disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami, masing masing bab mengupas materi yang disajikan yakni

Bab 1.    Membahas tentang pendahuluan dan latar belakang penulisan studi ini yakni perkembangan luas perkebunan kelapa sawit mulai dari tahun 1968 hingga tahun 2015, baik itu perkebunan rakyat, perkebunan Negara dan Perkebunan Swasta Nasional, ruang lingkup studi dan juga methodologi penulisan.

Bab 2. Deskripsi Tanaman Kalapa Sawit, Sejarah dan Produk Turunannya, dalam bab ini dibahas tentang deskripsi tanaman kelapa sawit sebagai tambahan pengenalan bagi pembaca agar lebih memahami tentang tanaman kelapa sawit yang meliputi tanaman kelapa sawit, umur tanaman,  lingkungan tumbuh serta produktifitas tanaman. Dalam pembahasan Sejarah tanaman sawit di indonesia yakni asal muasal tanaman kelapa sawit, pertama kali dikembangkan di indonesia serta pengembangan benih dari origin aslinya. Produk turunan CPO disini dibahas secara ringkas produk yang dapat dihasilkan dari Crude Palm Oil (CPO), maupun dari PKO (Palm Kernel Oil).

Bab 3.  Pelaku Industri Kelapa Sawit Indonesia, membahas peran serta perkebunan dari sudut pengusahaan nya, seperti perkebunan rakyat, perkebunan negara, dan perkebunan swasta nasional, seperti luas areal tanam, baik tanaman menghasilkan maupun tanaman belum menghasilkan, data ditampilkan dalam 15 tahun terakhir, penyebaran luas areal tanam per wilayah dan propinsi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, produksi tandan buah segar per wilayah dan propinsi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, serta produksi CPO dan Palm Kernel dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Dalam bab ini juga dibahas profil pelaku bisnis terbesar dalam dunia perkebunan kelapa sawit seperti PTPN antara lain PTPN 1 hingga PTPN  XIV dan perkebunan Swasta Nasional dengan mengambil 10 besar antara lain Astra Agro Lestari, Minamas Grup, Salim Ivomas Pratama, Sampurna Agro, hingga perusahaan sebesar Wilmar Grup, profil pelaku usaha tersebut dibahas lengkap dengan anak perusahaan nya sebaran areal kerjanya dan dengan luas areal HGU nya serta kapasitas olah pabrik Kelapa Sawitnya, juga di analisa produksi TBS, Produksi CPO dan Kernel nya serta produktivitasnya (CPO Extraction Rate, PKO Ectraction Rata) dan lain sebagainya.

Bab 4. Perkembangan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia, yang mengupas tentang peluang ekspor CPO dan Palm Kernel Oil (PKO) Indonesia, serta perbandingan produksi minyak sawit indonesia baik produksi CPO dan PKO yang dipisahkan berbanding dengan Produksi dari Malaysia sejak tahun 1964, dalam bab ini juga dibahas  tentang perkembangan ekspor minyak sawit indonesia (CPO dan PKO) dengan menampilkan data 15 tahun terakhir mulai tahun 2000 hingga tahun 2015, besarnya volume ekspor CPO dan PKO indonesia dan nilai atau value ekspor dalam indonesia dalam US$ yang didapat dari kegiatan ekspor minyak sawit tersebut. Juga dibahas tentang perkembangan harga CPO dan PKO dunia dari tahun ke tahun dimulai dari tahun 1996 hingga tahun 2015, selain itu juga dibahas tujuan ekspor minyak sawit indonesia ke negara tujuan ekspor, baik volume ekspor maupun nilai ekspor nya, sehingga jelas kemana saja tujuan ekspor minyak sawit indonesia selama ini data ditampilkan dalam 5 tahun terakhir.

Bab 5. Perkembangan Impor Minyak Kelapa Sawit Indonesia,  tidak banyak yang bisa dikupas dari impor minyak sawit indonesia, seperti diketahui Indonesia adalah negera terbesar produksi CPO dunia, dalam bab ini juga dibahas volume dan nilai impor dalam US$ minyak sawit indonesia dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, juga dibahas dari negara mana saja asal impor minyak sawit indonesia selama ini.

Bab 6 Konsumsi Minyak Sawit Dalam Negeri, bahasan utama dalam bab ini adalah perkembangan konsumsi minyak sawit dalam negeri baik CPO maupun PKO dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, yang paling utama dalam bab ini adalah mengupas kebutuhan konsumsi minyak sawit dalam sektor industri turunannya berapa besar kebutuhan CPO baku untuk menghasilkan produk turunanna seperti untuk industri pangan antara lain untuk minyak goreng, margarine juga hasil produksi dan pelaku usaha yang bergerak dibidangnya, selain untuk pangan juga untuk industri non pangan antara lain untuk industri oleo chemical, industri sabun dan ditergen, juga industi biodiesel.

Bab 7. Prospek Pasar Minyak Sawit Dunia, dalam  bab ini mengupas potensi produksi minyak sawit dunia dalam 10 tahun terakhir dengan menampilkan 5 produsen utama penghasil minyak sawit dunia dilengkapi dengan grafik perkembangannya beserta kontribusinya dalam perkembangan produksi minyak sawit dunia, juga dibahas tentang perkembangan minyak nabati dunia yang terdiri dari 13 jenis minyak nabati dunia dan pengaruhnya terhadap produksi minyak sawit dunia, dan juga kontribusi minyak nabati dunia bagi konsumsi minyak nabati dunia. Juga dibahas berapa besar konsumsi dunia terhadap minyak nabati, juga berapa besar peran minyak sawit dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia, juga negara negara yang mengkonsumsi minyak nabati terbesar.

Bab 8. Proyeksi Potensi Produksi dan Prospek Industri Berbasis CPO dan Turunannya tahun 2016  2020, bab ini terdiri dari 9 halaman, membahas proyeksi dalam 5 tahun kedepan, dan dengan mengunakan data data yang ada 10 tahun sebelumnya, dan dengan menggunakan pendekatan pertumbuhan rata rata dengan menggunakan methode mathematika maka dibuatlah proyeksi perkembangannya antara lain proyeksi perkembangan dan prospek penambahan luas areal tanam berdasarkan dari pengusahaannya yakni perkebunan Rakyat, Perkebunan Negara, dan Perkebunan Swasta Nasional, juga dibahas tentang prospek dan potensi produksi minyak sawit indonesia dalam satu tabulasi yang sempurna dimana ditampilkan luas areal tanam, produksi, serta produktivitasnya baik CPO dan PKO, juga proyeksi konsumsi minyak sawit indonesia secara umum juga proyeksi kebutuhan bahan baku bagi industri turunannya juga produksi hasil industri turunan tersebut.

Bab 9. Kesimpulan, bab ini menampilkan kesimpulan dari studi dan hasil bahasan pada bab bab sebelumnya, secara umum dari studi ini adalah memberi informasi kepada pembaca tentang luas areal tanam kelapa sawit,  produksi CPO dan PKO, para pelaku usaha, juga ekspor dan impor, serta konsumsi dan penggunaannya untuk industri turunnnya

Dan dalam studi ini juga secara ringkas di simpulkan total Produksi CPO dan PKO nasional dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, baik dari perkebunan rakyat perkebunan negara maupun perkebunan swasta nasional yang cukup signifikan perannya juga dikupas dalam studi ini, disamping itu juga persolanan OER (rendemen CPO) rata rata masih rendah jugapersoalan KER yang juga masih rendah baik bagi perkebunan Rakyat, Perkebunan Negara dan Perkebunan Swasta Nasional

    Berdasarkan kajian Global Mapindo, walaupun saat ini untuk membuka lahan baru sudah dibatasi dengan aturan moratorium yang di keluarkan oleh pemerintah tentang pembukaan areal baru untuk perkebunan, tetapi industri kelapa sawit akan terus bergeliat dan semakin meningkat, hal ini terkait masih luasnya areal yang belum ditanami oleh para pelaku bisnis kelapa sawit terutama perkebunan besar, seperti Astra Agro Lestri, SMART, Wilmar Internasional, dan lainnya, juga pengawasan terhadap yeild produksi TBS yang harus ditingkat kan lagi dengan mengcau standardisasi yield panen TBS perhektar sekitar 24 ton per hektar, yang sementara ini yield per hektarnya belum mampu mencapai angka ideal yang diharapkan, dan semua itu disajikan dalam bahasan dan kajian ada pada buku studi Peluang Bisnis Industri Kelapa Sawit dan Produk Turunannya di Indonesia Tahun 2016 - 2020, secara lengkap baik dalam bentuk tabulasi maupun grafik dengan gaya bahasa yang mudah dipahami.

Peluang bisnis disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan bagi para stake holder dan para pemegang kebjakan di perusahaan untuk melihat seberapa besar peluang bisnis Industri perkebunan kelapa sawit, dari hulu ke hilir, selengkapnya dalam buku studi   PELUANG BISNIS INDUSTRI KELAPA SAWIT DAN PRODUK TURUNANNYA DI INDONESIA TAHUN 2016 - 2020 dapat menghubungi kami via email eddiepurwanto96@gmail.com dengan harga kami tawarkan US$ 600 dan dalam bahasa Inggris "Bussines Opportunity on Palm Oil Industry and Its Derivatives" kami tawarkan US$660


 

Karakteristik Pasar CPO Ke USA


Menurut pengamatan dan riset yang kami lakukan bahwa larangan minyak mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia yang masuk ke pasar Amerika Serikat tidak akan menghambat produksi CPO Indonesia.  Indonesia juga tidak perlu serius menanggapi penolakan Amerika Serikat atas produk minyak sawit mentah dari Indonesia, yang diberlakukan sejak 28 Januari 2012 lalu. Karena ekspor CPO Indonesia relatif hanya sedikit sekali  yang masuk pe kasar ekspor Amerika Serikat.

Sebagaimana diketahui  pasar utama CPO Indonesia adalah ke China, Korea, India, Jepang dan negara Asia dan Asean, termasuk untuk kebutuhan dalam negeri sendiri. Berdasarkan  data, ekspor minyak mentah Indonesia masuk pasar ke Amerika Serikat 2011 lalu hanya sebanyak 62.000 ton dari total produksi Indonesia sebesar 23,5 juta ton. Sedangkan untuk jumlah ekspor CPO  mencapai 16,5 juta ton selama 2011 dengan total nilai sekitar 68,2 juta dolar Amerika Serikat. Sehingga pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Bahkan  menurut humas PT Swakarsa Sinar Sentosa (Swakarsa Group),  mengatakan, larangan minyak mentah Indonesia masuk Amerika Serikat Januari 2012 tidak mempengaruhi proses produksi CPO perseroan. Tidak pengaruh bagi Swakarsa Group, bahkan target perseroan, produk akan terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan beberapa negara dan kebutuhan dalam negeri.

Pasar Ekspor CPO Indonesia menurut  Riset yang kami lakukan,  ke Amerika Serikat masih berjalan normal, walaupun sedikit terjadi penurunan pada tahun 2008 dan 2009 lalu  akibat dari krisis global, dimana harga CPO sempat mengalami penurunan yang cukup drastis, namun pada tahun 2010 -2011 dan kembali meningkat setelahnya. Walupun    hambatan pemasaran adanya kampanye anti minyak nabati dari ASA juga masih menjadi kendala bagi pasar ekspor CPO Indonesia.

Permintaaan minyak sawit mentah (CPO) di Amerika Serikat (AS) dalam delapan tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan mencapai 60%, seiring dengan meningkatnya kebutuhan minyak makan dan biofuel di negara tersebut.

Sementara itu menurut sumber PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk, potensi CPO untuk masuk ke pasar AS terutama untuk pangan mencapai sekitar enam juta pon. Namun, ada kendala yang harus dihadapi produsen CPO, karena di California ada ketentuan "trans fatty acid" (asam lemak) harus di bawah 1%.

Disamping itu bahwa masih banyak persepsi konsumen di AS yang menilai minyak sawit memiliki tingkat kesehatan lebih rendah dibanding minyak nabati lainnya seperti minyak zaitun, minyak kedele dan minyak jagung. Namun itu masalah teknis yang harus dihadapi di AS. Tantangan yang dihadapi akan semakin besar bila ketentuan mengenai asam lemak itu berlaku di seluruh negara bagian AS.

Sebagaimana diketahui pasar minyak nabati Amerika Serikat didominasi oleh minyak kedelai, jagung, dan biji-bijian dari produsen lokal (ASA), Argentina dan Brasilia. Pasar CPO Amerika Serikat walaupun dipasok dari produsen minyak sawit asal Kolumbia, Ekuador, Honduras, Mexiko dan lainnya tetapi hasil produksinya sebagain besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Kebutuhan minyak sawit Amerika Serikat menurut Oil Word setiap tahunnya rata-rata mencapai sebesar 997 ribu ton - 1 juta ton. Dari total kebutuhan tersebut dipasok dari Indonesia rata-rata sebesar 150 ribu ton per tahun. Sisanya dipasok dari Malaysia, Filipina, Kolumbia, Ekuador dan negara produsen sawit lainnya.

Bahkan pada tahun 2015 Indonesia berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, ekspor mentah CPO Indonesia ke Amerika Serikat tidak ada hanya ekspor pada minyak hasil refenery sebesar 593,96 ribu ton dengan total nilai ekspor   US$ 332.74 juta, yang mencakup Solid fractions of refined palm oil,packing of a net weight_20kg, Solid fractions of refined palm oil,packing of a net weight > 20kg, Unsolid fractions of refined palm oil,packing net weight_20kg, dan Unsolid fractions of refined palm oil,packing net weight < 20kg

Kesimpulannya
  1. Pasar  Amerika Serikat didominasi oleh minyak kedelai, jagung, dan biji-bijian dari produsen lokal (ASA), Argentina dan Brasilia
  2. Biarpun di wilayah ini terdapat produsen minyak sawit, Kolumbia, Ekuador dal lainnya tetapi hasil produksinya sebagain besar untuk kebutuhan dalam negerinya.
  3. Hambatan pemasaran di wilayah ini adalah adanya kampanye anti minyak nabati dari ASA.
    Kemungkinan bisa dijajaki kerja sama perkelapasawitan  dengan ASA, tanpa merugikan usaha kedelai mereka. 
  4. Ekspor CPO Indonesia ke Amerika Serikat  rata-rata sebanyak 1,08 juta ton  per tahun.
  5. Kebutuhan minyak sawit Amerika Serikat menurut Oil Word setiap tahunnya rata-rata mencapai sebesar 997 ribu ton - 1.000 ribu ton

Selengkapnya 10 besar ekspor CPO Mentah Indonesia pada tahun 2015

No Negara Ekspor Ton (000) Nilai US $ (000)
1 JAPAN 3.821 2.112.621
2 HONG KONG 1.044 600.082
3 KOREA, REPUBLIC OF 620 346.107
4 CHINA 604 332.928
5 SINGAPORE 581 338.527
6 MALAYSIA 579 340.498
7 VIET NAM 170 96.565
8 INDIA 114 68.887
9 PAKISTAN 95 57.706
10 SRI LANKA 37 22.486
11 Negara Lainnya 121 70.772

Karakteristik Pasar CPO Eropa Timur


Pelaku usaha dan pengekspor minyak kelapa sawit (CPO) keberatan jika pemerintah memindahkan basis pelabuhan ekspor dari Rotterdam, Belanda, ke Turki dan dua negara Eropa Timur. Produsen kelapa sawit menilai pasar Eropa Barat atau pasar tradisional belum mengalami penurunan permintaan meski ke depan industri harus melebarkan pasarnya hingga Eropa Timur, Afrika, dan Timur Tengah . Pasar tradisional CPO di Eropa dan beberapa negara Eropa Tengah masih cukup besar. Oleh karena itu, mereka menilai Pemerintah belum perlu memindahkan basis pelabuhan ekspor dari sana. Saat ini belum ada penurunan permintaan dari wilayah tersebut meski di kawasan itu mengalami perlambatan ekonomi.

Indonesia, seperti diketahui, sudah puluhan tahun mengekspor CPO melalui pelabuhan Rotterdam. Oleh karena itu, pelaku usaha keberatan jika pemerintah berusaha mengubah basis pelabuhan ekspor dari Rotterdam, Belanda ke Turki, Serbia, dan Jerman.

Namun yang  menjadi pertanyaan, apakah `refinery` atau pengolahan di tiga negara itu cukup besar atau tidak.  Hal ini disebabkan beberapa perusahaan seperti Wilmar memiliki `refinery` sendiri di Rotterdam dan faktor biaya patut dipertimbangkan karena saat ini biaya ke Rotterdam juga tidak terlalu mahal. Selain itu bahwa pelaku usaha memang berencana untuk melakukan diversifikasi, tetapi tanpa perlu meninggalkan pasar tradisional. Negara-negara yang menjadi tujuan utama diversifikasi ialah negara Eropa Timur, misalnya Polandia, Serbia, dan negara-negara Mediterania, seperti Turki dan Iran.

Melihat semakin ketatnya persaingan pasar minyak nabati dunia, para produsen CPO Indonesia kini mulai mengincar pasar CPO ke Eropa Timur. Sejumlah langkah telah dilakukan seperti memperkenalkan produk kepada negara-negara tersebut.  Prospek pasar CPO Indonesia di pasar Eropa Timur dinilai potensial bagi ekspor crude palm oil/CPO (minyak kelapa sawit). Dengan demikian para pengusaha CPO dan pemerintah akan memperkenalkan CPO ke negara-negara tersebut. Sebelumnya, pemerintah telah melakukan sosialisasi ekspor CPO ke parlemen Eropa Timur dan ada respon positif. Pemerintah Eropa Timur telah mengerti proses produksi kelapa sawit Indonesia masih memenuhi kreteria negara tersebut. Potensi pasar ekspor CPO masih cukup menjanjikan karena pasar Rusia memang cukup bagus, 
Terutama pasar Ukraina karena di sana sudah ada pabrik pengolah CPO menjadi bahan pangan seperti, minyak goreng dan berbagai jenis mentega. Potensi ekspor CPO ke Ukraina sekitar 200.000-300.000 ton per tahunnya, tetapi Indonesia harus memasarkannya secara intensif karena sejauh ini masalahnya kurang promosi, yang selama ini konsumen di Ukraina biasa memakai bahan baku lain seperti minyak kedelai atau minyak kanola meskipun harganya lebih mahal, dan dengan masuknya CPO Indonesia ke pasar Ukrania maka bisa menjadikan alternatif kebutuhan akan minyak nabati lebih bervariatif lagi.

Prospek pasar Rusia menarik dan peluang masih cukup besar. Menurut data statistik, tren volume ekspor minyak sawit dari ke negara bekas Uni Soviet itu terus meningkat. Tahun 2012, volumenya 356 ribu ton dan meningkat menjadi 570.000 ton pada 2014 dan 657.000 ton tahun 2015. dan pada tahun 2018 diperkirakan total volume ekspor minyak sawit Indonesia ke Rusia akan melampaui 800.000 ton.

Melihat potensi pasar yang besar tersebut dan untuk melihat bagaimana persepsi masyarakat Eropa (termasuk Eropa Timur) terkait minyak sawit Indonesia, untuk kali pertama, penyelenggaraan konferensi minyak sawit terbesar di dunia Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), telah di adakan di Bali tepatnya di Nusa Dua Bali, 23-25 November 2016 yang lalu dengan mendatangkan pembicara dari Rusia. Dalam IPOC ke-12, hadir Prof Oleg S. Medvedev dari Lomonosov Moscow State University yang berbicara mengenai isu kesehatan minyak sawit di masyarakat Eropa. Sementara itu, para pembicara yang tampil  lainnya seperti Prof Dr Iwan Jaya Aziz (Cornell University), Dr Risa Bhinekawati (ahli sustainability dari Australian National University), Dirut BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) Sawit Bayu Krisnamurthi, dan Dr Puspo Edi Girinowo (IPB). Selain itu, sejumlah pakar komoditas yang menjadi pembicara antara lain James Fry (Chairman LMC International, Inggris), Dorab Mistry (Godrej International, India), BV Mehta (Direktur Eksekutif Solvent Exractors Association of India), dan sejumlah pakar internasional lainnya.

Dari Konfrensi IPOC tersebut di kemukakan Indonesia memang sudah seharusnya menjadi referensi dalam aspek apapun terkait industri kelapa sawit. Mengingat Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar dunia dengan produksi mencapai 33 juta ton. Dalam pasar minyak nabati dunia, minyak sawit menjadi pemegang pangsa pasar terbesar dibandingkan minyak nabati lain yang dihasilkan oleh Amerika dan Eropa seperti minyak kedelai, bunga matahari, kanola, minyak jagung, dan lainnya. "Terkait proyeksi harga, dari IPOC tahun-tahun sebelumnya selalu akurat, ini akan semakin memperkuat keyakinan kita bahwa Indonesia adalah kiblat minyak sawit dunia.

Dengan demikian peluang bisnis untuk ekspor CPO ke negara negara Eropa Timur memang sangat menjanjikan apabila dilakukan dengan baik disamping isu isu tentang perusakan hutan yang selama ini di kampanyekan oleh negara negara Eropa Barat dan USA tidak begitu di tanggapi positif secara sensitif oleh negara negara Eropa Tmur disamping juga perlunya sosialisa tentang bagaimana proses pembangunan perkebunan hingga menghasilkan CPO berdasarkan hukum yang telah di tetapkan oleh pemerintah Indonesia dengan ISPO nya, semoga ini awal yang cerah bagi dunia kelapa sawit Indonesia.