Senin, 19 Maret 2018

Ulat Kantong Mahasena Corbetti




PENDAHULUAN
Pada pembahasan terdahulu kita telah membahas tentang  ulat kantong lainnya yakni Metisa Plana dan Clania Tertia ,  maka pada bahasan kali ini kita mencoba mengangkat pokok bahasan ulat kantong lainnya yakni Mahesa corbeti  atau Mahasena corbetti, Ulat pemakan daun kelapa sawit ( UPDKS ) Mahasena corbetti Tams ini merupakan hama penting pada perkebunan kelapa sawit karena menyerang dan menghilangkan banyak  perdaunan kelapa sawit sehingga menurunkan produksi.
Ulat kantong termasuk ini masuk dalam famili Psychidae. Tujuh spesies yang pernah ditemukan pada tanaman kelapa sawit adalah Metisa plana, Mahasena corbetti, Clania tertia Cremastopsyche pendula, Brachycyttarus griseus, Manatha albipes, Amatissa sp. dan Cryptothelea cardiophaga, dan ciri khas ulat kantong adalah hidupnya di dalam sebuah bangunan mirip kantong yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, di sekitar daerah serangan

Hama ini menyerang daun pada semua tingkat umur tanaman. Larva hidup di dalam kantong yang terbuat dari potongan dedaunan diikat dengan benang-benang dari air liurnya. Panjang larva bias mencapai 30 mm, berwarna cokelat kemerahan. Larva muda berada di permukaan atas daun, selanjutnya merambat ke permukaan bawah daun. Serangan biasanya pada daun-daun bagian atas. Ngengat betina tetap berbentuk larva dan tak pernah meninggalkan kantongnya, panjangnya 50 mm. Ngengat jantan berupa kupu-kupu berwarna cokelat, rentang sayapnya 30 mm. Telur diletakkan dalam kantong, jumlahnya berkisar 2000-3000 butir. Siklus hidup lengkap 120 hari dimana stadium larva berlangsung 80 hari. Tingkat populasi kritis 4-5 ekor/pelepah.

GEJALA SERANGAN
Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar. Hal ini menunjukkan bahwa kehilangan daun dapat mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan.


POLA SERANGAN
Ulat muda sudah dapat mengeluarkan benang sutra untuk menggantung, yang kemudian digunakan untuk menyebar dengan bantuan angina, setelah menetap di sutu tempat ulat kantong membentuk kantong sendiri. Ulat ini bergerak dengan mengeluarkan kepala dan sebagian dadanya untuk memakan daun, bunga, ataupun kulit tanaman sehingga menyebabkan daun berlubang dan menggulung karena ulat ini membentuk kantong.
Ulat yang sangat muda hanya memakan permukaan bawah daun. Ulat dewasa menghabiskan daun dan pinggir sampai ke lidi. Serangan berawal dari pelepah daun yang lebih tua mengarah ke pelepah daun yang lebih muda. Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi kemudian daun menjadi kering dan berwarna abu-abu Serangan hama menyebabkan daun berlubang-lubang. 

PENGENDALIAN
Secara Biologis
Parasitoid dan Predator memiliki potensi untuk mengendalikan hama secara biologi. Manipulasi lingkungan yang tepat untuk mengendalikan hama ini karena tindakan ini akan memodifikasi lingkungan untuk kelangsungan hidup dan perkembangan musuh alami.  Parasitoid yang sering digunakan untuk mengendalikan hama ulat kantong antara lain parasitoid primer dan sekunder, serta predator mempengaruhi populasi ulat Mahasena corbetti. Telah ditemukan 33 jenis parasitoid dan 11 jenis predator hama pemakan daun (Prawirosukarto, 2002).


Basri et al., (1999) menemukan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara serangga parasitoid dan jenis tanaman. Dari percobaan diketahui bahwa Dolochogenidea metesae menyukai tanaman Cassia cobanensis dan Asystasia  intrusa. Brachiraria carinata menyukai Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Euphelmus catoxanthae menyukai tanaman Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Tetrastichus sp menyukai tanaman Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Eurytoma sp menyukai tanaman Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Pediobius imbreus menyukai tanaman Cassia cobanensis Euphorbia heterophylla, Asystasia intrusa dan Ageratum conyzoides. Pediobius anomalus menyukai Cassia cobanensis dan Asystasia intrusa. Untuk mengetahui tanaman inang yang efektif, perlu dilakukan penelitian jenis tanaman inang yang paling disukai oleh predator ulat kantong pada umumnya

Parasitoid primer dan sekunder, serta predator mempengaruhi populasi Metisa. plana. Diantara parasitoid primer, Goryhus bunoh, hidup paling lama (47 hari) sedangkan hiperparasitoid yang hidup paling lama adalah P. imbreus. Dolichogenidea metesae merupakan parasitoid paling penting (Basri et al., 1995) yang berkembang baik pada tanaman Cassia cobanensis, termasuk Asystasia intrusa, Crotalaria usaramoensis, dan Euphorbia heterophylla. Kecuali A. intrusa, keberadaan tanaman ini akan bermanfaat karena memberikan nektar untuk parasitoid. 
 

Serta menggunakan Penggunaan Bacillus thuringiensis (Bt) sebagai insektisida biologi. Contoh produk Bt yaitu Dipel WP, Turex WP, Bactospene WP, sebagai alternatif lainnya.

Pengendalian secara Mekanis
Pengendalian Mekanis merupakan metode pengendalian dengan mengutip atau menangkap semua stadia ulat kantung dari stadia ulat hingga ngengat. Pengutipan ulat kantung bisa dilakukan secara manual menggunakan galah apabila masih terjangkau. Usahakan agar pelepah tidak dipangkas, serta memotong Pelepah yang telah sengkleh akibat serangan ulat dan membakar Pelepah yang telah di potong untuk menghindari serangan lanjutan

Pengendalian Secara Kimiawi
Ulat kantong dapat dikendalikan dengan penyemprotan atau dengan injeksi batang menggunakan insektisida. Untuk tanaman yang lebih muda (< umur 2 tahun), knapsack sprayer dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi insektisida dapat menggunakan fogging atau injeksi batang. Monocrotophos dan methamidophos merupakan dua insektisida sistemik yang direkomendasikan untuk injeksi batang (Hutauruk dan Sipayung, 1978). Karena bahan bakunya adalah bahan kimia yang sangat berbahaya, ijin harus diperlukan dari Komisi Pestisida untuk tujuan dan cara aplikasi dan saat ini sudah tidak dikeluarkan lagi. 

 
Insektisida  yang direkomendasikan oleh Komisi Pestisida Indonesia tahun 2016 untuk hama Ulat Kantong adalah Abakmektin (Badik 18 EC), Abamektin + Sipermetrin (Limpidor 30/125 EC), Asefat (Ace-One 75 SP, Antong 75 SP, Chepate 75 SP, Lancer75 SP, Manthene 75 SP, Orthene 75, SP, Ortran 75 SP, Besqueen 80 SP, Jossefat 80 SP), Bacillus thuringiensis (DiPel SC), Deltametrin (Percis 30 SC), Diazinon (Diazinon 600 EC, Sidazinon 600 EC), Dimehipo (E-To 400 SL, Feltus 400 SL, Defron 500 SL, Manuver 6 GR), Emamektin benzoat (Provide-X 21/45 SC), Karbosulfan (Respect 200 EC), Klorantraniliprol (Prevathon 50 SC), Metomil (Dangke 40 WP), Sipermetrin (Capture 50 EC, Astertrin 250 EC), Tiodikarb + Triflumuron (Destello 480 SC), Triflumuron (Alsystin 480 SC).

Penerapan Sistem Pengendalian Hama Terpadu
Pengendalian hama terpadu merupakan perpaduan atau kombinasi pengendalian hama secara terpadu (biologi) dan pengendalian secara kimia. Dalam hal serangan hama yang terjadi di perkebunan kelapa sawit, pihak perkebunan mempunyai cara masing-masing dalam pengendaliannya seperti pemakaian insektisida kimia, menggunakan musuh alami serta menggunakan jebakan hama.

Penerapan Sistem Konservasi Parasitoid
Untuk memperbanyak dan mempertahankan populasi parasitoid di perkebunan kelapa sawit dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan insektisida kimia maupun herbisida dalam mengendalikan gulma sebagai sumber makanan bagi imago parasitoid. Tanaman yang telah diteliti sangat baik sebagai konservasi parasitoid diantaranya adalah tanaman  Antigonon leptopus, Turnera subulata, Turnera ulmifolia, Euphorbia heterophylla, Cassia tora, Borreria alata, dan Elephantopustomentosus 



Sumber : 
1. http://www.doktersawit.com/hama-ulat-kantong/
2. http://vincentnoahdavid.blogspot.co.id/p/mahasena-corbetti-1.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berilah komentar yang sifatnya membangun