Minggu, 28 Januari 2018

Hama Ulat Kantong


Jenis jenis ulat kantong antara lain Mahasena corbetti Metisa plana dan Cremathophysche (Pteroma) pendula. Ulat kantong termasuk dalam famili Psychidae. Tujuh spesies yang pernah ditemukan pada tanaman kelapa sawit adalah Metisa plana, Mahasena corbetti, Cremastopsyche pendula, Brachycyttarus griseus, Manatha albipes, Amatissa sp. dan Cryptothelea cardiophaga (Norman et al., 1995). Jenis ulat kantong yang paling merugikan di perkebunan kelapa sawit adalah Metisa plana dan Mahasena corbetti.

Ciri khas ulat kantong adalah hidupnya di dalam sebuah bangunan mirip kantong yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, di sekitar daerah serangan (Norman et al., 1995). Ciri khas yang lain yakni pada bagian tubuh dewasa betina kebanyakan spesies ulat kantong mereduksi dan tidak mampu untuk terbang. Jantan memiliki sayap dan akan mencari betina karena bau feromon yang dikeluarkan betina untuk menarik serangga jantan.

Stadia ulat M. plana terdiri atas 4-5 instar dan berlangsung sekitar 50 hari. Pada waktu berkepompong, kantong kelihatan halus permukaan luarnya, berukuran panjang sekitar 15 mm dan menggantung seperti kait di permukaan bawah daun. Stadia kepompong berlangsung selama 25 hari.

Ngengat M. plana betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100-300 butir selama hidupnya. Telur menetas dalam waktu 18 hari. Ulat berukuran lebih kecil dibandingkan dengan M. corbetti yakni pada akhir perkembangannya dapat mencapai panjang sekitar 12 mm, dengan panjang kantong 15-17 mm. 

Ngengat M. corbetti jantan bersayap normal dengan rentangan sayap sekitar 30 mm dan berwarna coklat tua. Seekor ngengat M. corbetti betina mampu menghasilkan telur antara 2.000-3.000 butir (Syed, 1978). Telur menetas dalam waktu sekitar 16 hari. Ulat yang baru menetas sangat aktif dan bergantungan dengan benang-benang liurnya, sehingga mudah menyebar dengan bantuan angin, terbawa manusia atau binantang. Ulat sangat aktif makan sambil membuat kantong dari potongan daun yang  agak kasar atau kasar. 

Selanjutnya ulat bergerak dan makan dengan hanya mengeluarkan kepala dan kaki depannya dari dalam kantong. Ulat mula-mula berada pada permukaan atas daun, tetapi setelah kantong semakin besar berpindah menggantung di bagian permukaan bawah daun kelapa sawit. Pada akhir perkembangannya, ulat dapat mencapai panjang 35 mm dengan panjang kantong sekitar 30-50 mm. Stadia ulat berlangsung sekitar 80 hari.  Ulat berkepompong di dalam kantong selama sekitar 30 hari, sehingga total siklus hidupnya adalah sekitar 126 hari. 

Pengetahuan tentang siklus hidup secara utuh sangat berguna di dalam managemen pengendalian hama ini. Dengan informasi ini, rantai terlemah dari siklus hidupnya didapat sehingga akan membantu dalam menentukan waktu tindakan pengendalian yang tepat. Informasi siklus hidup juga akan memberikan pemahaman biologi yang lebih baik untuk pengelolaan hama.

Dampak Serangan

Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar. Basri (1993) menunjukkan bahwa kehilangan daun dapat mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan.

Pengendalian Secara Kimiawi

Ulat kantong dapat dikendalikan dengan penyemprotan atau dengan injeksi batang menggunakan insektisida. Untuk tanaman yang lebih muda (< umur 2 tahun), knapsack sprayer dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi insektisida dapat menggunakan fogging atau injeksi batang. Monocrotophos dan methamidophos merupakan dua insektisida sistemik yang direkomendasikan untuk injeksi batang (Hutauruk dan Sipayung, 1978). Karena bahan bakunya adalah bahan kimia yang sangat berbahaya, ijin harus diperlukan dari Direktorat Pupuk dan Pestisida Direktorat Jenderal dan Sarana Pertanian Republik Indonesia, dan saat ini pestisida yang mendapat ijin edar di Indonesia sebanyak 27 Merek Dagang sebagai berikut :


No Merek Dagang Pemegang Terdaftar
1 Ace-One 75 SP PT. Sinar General Industries
2 Alsystin 480 SC PT. Bayer Indonesia
3 Antong 75 SP PT. Agro Sejahtera Indonesia
4 Astertrin 250 EC PT. Agro Sejahtera Indonesia
5 Badik 18 EC PT. Agro Persada
6 Besqueen 80 SP PT. Tiara Buana Mandiri
7 Capture 50 EC PT. Darma Guna Wibawa
8 Chepate 75 SP PT. Nufarm Indonesia
9 Dangke40WP PT. Darma Guna Wibawa
10 Defron 500 SL PT. Darma Guna Wibawa
11 Destello 480 SC PT. Bayer Indonesia
12 Diazinon 600 EC PT. Petrokimia Kayaku
13 Dipel SC Sumitomo Sdn. Bhd
14 E-To400SL PT. Arysta Lifescience Tirta
15 Feltus 400 SL
16 Jossefat 80 SP CV. Mahakam
17 Lancer75 SP PT. Agro Sejahtera Indonesia
18 Limpidor 30/125 EC PT. Darma Guna Wibawa
19 Manthene 75 SP PT. Darma Guna Wibawa
20 Manuver6GR PT. Biotis Agrindo
21 Orthene 75 SP PT. Indagro
22 Ortran 75 SP PT. Arysta Lifescience Tirta
23 Percis 30 EC PT. Petrosida Gresik
24 Prevathon 50 SC PT. DuPont Agricultural Products
25 Provide-X 21/45 SC PT. Agro Persada
26 Respect 200 EC PT. Darma Guna Wibawa
27 Sidazinon 600 EC PT. Petrosida Gresik



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berilah komentar yang sifatnya membangun