Rabu, 24 Januari 2018

Memanfaatkan Jankos Untuk Budi daya Jamur


Di Indonesia budidaya jamur merang secara intensif umumnya dilakukan menggunakan media jerami padi dan kapas. Substrat media jamur merang lainnya sebenarnya sangat banyak diantaranya rerumputan, enceng gondok, daun pisang, ampas tebu, ampas aren, batang jagung, limbah pengalengan jus jeruk, limbah seduhan teh, kotoran kuda, jerami gandum, serbuk gergaji, jerami kedelai, kulit talas, kulit ubi dan tandan kosong kelapa sawit.

Kelapa sawit selain menghasilkan limbah cair, dalam kegiatan produksi dan pengolahan TBS dihasilkan juga limbah padat berupa tandan kosong, serat dan cangkang. Dari total berat TBS, sekitar 20 sampai 23 persen menghasilkan tandan kosong, sekitar 10 sampai 12 persen menghasilkan serat, dan sekitar 7 sampai 9 persen menghasilkan cangkang. Tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos, bioethanol maupun sebagai media jamur merang. Dalam satu pabrik kapasitas pengolahan minyak mencapai 6 ton per jam sehingga dalam satu hari dihasilkan sekitar 6 ton tandan kosong sawit.

Dalam keadaan alami tandan kosong sawit jika dibiarkan diruang terbuka akan banyak ditumbuhi berbagai macam jamur. Masyarakat Sumatera Selatan sering berburu jamur ditandan sawit untuk dikonsumsi. Sayangnya jamur sawit yang biasa dikonsumsi umumnya ditemui hanya saat musim hujan dan kadang beresiko keracunan. Agar dapat diperoleh jamur tanpa tergantung musim dan aman dikonsumsi, budidaya jamur merang pada tankos sawit dapat menjadi pilihan.

Laporan budidaya jamur pada tandan sawit telah dipublikasi sekitar tahun 2009 di Nigeria (Onuoha,2009). Menurut Thiribuvanamala (2012) hasil produksi jamur dengan media sawit lebih tinggi dibanding jerami dan kapas. Penggunaan komposit 1: 1 jerami dan tandan sawit lebih baik dibanding bahan tunggal jerami saja atau tandan sawit saja.. Saat ini beberapa tempat di Indonesia seperti di Aceh, Lampung, Sumatera Selatan dan Kalimantan sudah mulai mengusahakan jamur merang dengan media tandan kosong (tankos) sawit.

Teknis budidaya jamur merang di tandan sawit
Bahan: Tandan kosong sawit sekitar 1,5 ton-2 ton, dedak 50 kg, kapur 25 kg
Alat : bak perendam, kumbung jamur 6 x4x25 m, sprayer, angkong,terpal, drum penghasil uap, kayu bakar atau gas.

Cara Kerja:
Penerimaan bahan tankos dari Pabrik sawit
  1. Tandan kosong dapat diperoleh di Pabrik pengolahan sawit dihamparkan selama empat hari untuk memberi kesempatan jamur berwarna oranye untuk tumbuh sehingga kadar minyak berkurang. Tandan sawit yang dibiarkan lewat 20 hari hasilnya kurang baik.
  2. Pencucian/perendaman. Tandan selanjutnya dicuci untuk menghilangkan minyak tersisa atau direndam semalam dalam bak.
  3. Penumpukan/pengomposan. Tandan selanjutya ditumpuk dengan tinggi sekitar 1 meter dan tiap lapis tandan ditambah kapur dan dedak. Pengomposan dilakukan 8-14 hari. Pada hari ke 4 dan 8 dilakukan pembalikan
  4. Penataan dalam kumbung. Selanjutnya tandan kosong disusun dalam rak rumah jamur. Untuk jamur merang hitam tumpukan jangan terlalu tebal, sedangkan untuk jamur merang putih perlu media yang lebih tebal
  5. Pasteurisasi. Pasteurisasi dilakukan dengan cara mengalirkan uap panas kedalam kumbung jamur sekitar 5-7 jam. Suhu kumbung harus mencapai 70oC minimal 2 jam.
  6. Penanaman bibit. Bibit jamur ditabur diatastumpukan tandan sawit segera setelah pasteurisasi namun suhu dalam media sudah turun sekitar 30oC. Satu meter persegi memerlukan sekitar satu log bibit berukuran 300 g.
  7. Pemeliharaan. Pemeliharaan berupa buka tutup jendela, pencahayaan dan penyiraman dilakukan dari hari ke-5 sampai habis panen.
  8. Pemanenan. Jamur merang dapat dipanen sekitar hari ke-10 setelah tanam. Panen dilakukan setiap hari pagi atau sore hari.
(Sri Harnanik, STP., MSi./Peneliti BPTP-Balitbangtan Sumsel)

Sumber Berita: http://sumsel.litbang.pertanian.go.id/BPTPSUMSEL/berita-pemanfaatan-tandan-kosong-sawit-sebagai-media-budidaya-jamur-merang.html#ixzz554pJ5IOL
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial No Derivatives

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berilah komentar yang sifatnya membangun